Artikel Terbaru :
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

3 Peristiwa Penting di Bulan Rajab

Oleh : Adi Victoria, Penulis Buku “Khilafah The Answer”

SETIAP memasuki bulan Rajab, sebagian kaum muslimin akan langsung terbesit di dalam fikirannya yakni bahwa bulan rajab adalah bulan Isra’ Mikraj. Padahal, disamping peristiwa bersejarah tersebut, juga terdapat peristiwa-peristiwa lain yang juga sangat bersejarah dan turut serta memberikan perubahan bagi kehidupan kaum muslimin.

Apa sajakah peristiwa tersebut?

1. Isra’ Mikraj (27 Rajab).
Tepat malam 27 Rajab, nabi Muhammad saw melakukan perjalanan yang dikenal dengan Isra’ Mikraj, dimana nabi Muhammad diperjalankan berangkat dari Masjidil Haram menuju masjid al aqsha di baitul maqdis palestina. Isra’ Mikraj itu sendiri adalah hiburan yang diberikan oleh Allah swt kepada Nabi Muhammad saw, sebagai penguat dirinya, dalam menjalani beratnya perjalanan dakwah yang beliu hadapi, terlebih lagi setelah meninggalnya isteri yang begitu beliau cintai dan sayangi yakni Khadijah ra yang selalu setia berada di sisi nabi, memberikan dukungan moril dan spiritual juga materi akan dakwah nabi, juga meninggalnya paman beliau yakni Abu Thalib, orang yang selama ini memberikan himayah (perlindungan) akan dakwah nabi Muhammad saw.

2. Pembebasan Baitul Maqdis Palestina
27 Rajab 583 H, Shalahudin al Ayyubi bersama pasukan kaum muslimin bergerak mengepung dan membebaskan tanah Palestina yang setelah sekian abad lamanya dikuasai oleh pasukan salibis. Pembebasan itu sendiri tidak mendapatkan perlawanan yang berarti dari pasukan salibis.

Umat Islam Palestina pun akhirnya kembali dapat hidup dengan melaksanakan syariah Islam di bawah system pemerintahan Khilafah Islam.

3. Penghapusan sistem khilafah
28 Rajab 1342 H atau tepatnya pada 03 Maret 1924, seorang pengkhianat yang bernama Mustafa Kemal at-Tarturk, seorang yang berketurunan Yahudi dari suku Dunamah, seorang agen barat (Inggris), telah menghapuskan system pemerintahan Islam yakni istem Khilafah, yang kemudian diganti dengan system pemerintahan Republik.

Sejak saat itulah, petaka, bencana dan musibah menimpa umat Islam. Aturan syariah Islam dicampakan, dan dig anti dengan aturan yang berpijak pada ideology Kapitalisme-Sekuleris.

Umat Islam yang dulunya berada pada satu wilayah kekuasaan pemerintahan, kini telah terpecah-pecah menjadi negeri-negeri kecil sekitar 57-an Negara, yang disekat dengan batas territorial wilayah atas nama Nasionalisme.

Bulan Rajab, Bulan Perjuangan

Saatnya, di bulan rajab sekarang ini, semangat Rajab adalah semangat untuk menuju perubahan yang lebih baik, dan perubahan yang lebih baik itu hanya akan terjadi jika berasal dari sistem kehidupan yang baik. Dan iystem kehidupan yang baik adalah yang berasal dari dzat yang maha baik, Dia-lah Allah swt, yang telah memberikan janji akan memberikan kekuasaan (istikhlaf) kepada kaum muslim.

Sebagaimana dalam surat An Nuur ayat 55, Allah swt berfirman

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا ۚ وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ ﴿٥٥﴾

“Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal salih di antara kalian bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa; akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridhai untuk mereka; dan akan menukar (keadaan) mereka sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah Aku tanpa mempersekutukan Aku dengan dengan sesuatu pun. Siapa saja yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, mereka itulah orang-orang yang fasik.” [TQS An Nuur : 55]
Dalam surat ini, Allah memberikan beberapa penegasan, Pertama, ayat ini dimulai dengan, “Wa’ada-Llahu (Allah berjanji)..” yang menunjukkan jaminan kepastian akan terwujudnya apa yang dijanjikan.

Kedua, janji yang dijanjikan itu diungkapkan dengan menggunakan redaksi yang jelas, “La yastakhlifannahum (Dia sunguh-sungguh akan memberikan Khilafah [kekuasaan] kepada mereka).” Frasa ini mempunyai makna yang mendalam, karena disusun dari, Lam yang merupakan jawab dari sumpah Allah, diakhiri dengan nun yang digandakan (tasydid), atau disebut nun taukid tsaqilah, yang berarti “penegasan ganda”.

Ditambah pilihan lafadz, yastakhlifa yang merupakan satu akar kata dengan lafadz khilafah. Semuanya ini tidak bisa diartikan lain, kecuali bahwa janji berdirinya khilafah ini merupakan janji yang pasti.

Mungkin ada sebagian kaum muslimin yang berpendapat bahwa janji Allah tersebut telah kadaluarsa, karena Khilafah telah Allah berikan pada masa Khulafaur Rasyidin. Pendapat tersebut tidak benar, karena janji Allah berlaku tanpa batas, dan hal tersebut juga dipertegas oleh bisyarah (kabar gembira) yang disampaikan oleh nabi Muhammad saw bahwa Khilafah akan tegak kembali.
Sebagaimana dalam sebuah riwayat disampaikan,

حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ الطَّيَالِسِيُّ حَدَّثَنِي دَاوُدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْوَاسِطِيُّ حَدَّثَنِي حَبِيبُ بْنُ سَالِمٍ عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ كُنَّا قُعُودًا فِي الْمَسْجِدِ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ بَشِيرٌ رَجُلًا يَكُفُّ حَدِيثَهُ فَجَاءَ أَبُو ثَعْلَبَةَ الْخُشَنِيُّ فَقَالَ يَا بَشِيرُ بْنَ سَعْدٍ أَتَحْفَظُ حَدِيثَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْأُمَرَاءِ فَقَالَ حُذَيْفَةُ أَنَا أَحْفَظُ خُطْبَتَهُ فَجَلَسَ أَبُو ثَعْلَبَةَ فَقَالَ حُذَيْفَةُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ثُمَّ سَكَتَ (رَوَاهُ اَحْمَدُ)

Imam Ahmad berkata, “Sulaiman bin Dawud al-Thayaalisiy telah meriwayatkan sebuah hadits kepada kami; di mana ia berkata, “Dawud bin Ibrahim al-Wasithiy telah menuturkan hadits kepadaku (Sulaiman bin Dawud al-Thayalisiy). Dan Dawud bin Ibrahim berkata, “Habib bin Salim telah meriwayatkan sebuah hadits dari Nu’man bin Basyir; dimana ia berkata, “Kami sedang duduk di dalam Masjid bersama Nabi saw, –Basyir sendiri adalah seorang laki-laki yang suka mengumpulkan hadits Nabi saw. Lalu, datanglah Abu Tsa’labah al-Khusyaniy seraya berkata, “Wahai Basyir bin Sa’ad, apakah kamu hafal hadits Nabi saw yang berbicara tentang para pemimpin? Hudzaifah menjawab, “Saya hafal khuthbah Nabi saw.” Hudzaifah berkata, “Nabi saw bersabda, “Akan datang kepada kalian masa kenabian, dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Kemudian, Allah akan menghapusnya, jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang masa Kekhilafahan ‘ala Minhaaj al-Nubuwwah; dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Lalu, Allah menghapusnya jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang kepada kalian, masa raja menggigit (raja yang dzalim), dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Lalu, Allah menghapusnya, jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang masa raja dictator (pemaksa); dan atas kehendak Allah masa itu akan datang; lalu Allah akan menghapusnya jika berkehendak menghapusnya. Kemudian, datanglah masa Khilafah ‘ala Minhaaj al-Nubuwwah (Khilafah yang berjalan di atas kenabian). Setelah itu, beliau diam”.[HR. Imam Ahmad]

Oleh karenanya, bulan rajab ini adalah salah satu bulan yang bisa dijadikan momentum untuk semakin meneguhkan perjuangan dalam rangka mewujudkan janji dari Allah swt bisyarah dari Rasulullah saw bahwa Khilafah akan segera tegak melalui perjuangan, perjuangan yang tidak kenal lelah serta penuh keikhlasan dari para pengemban dakwah perjuangan tersebut. Wallahu a’lam.[]

Sejarah Kota Mekah bagian 2

Sering kita mendengar kata Quraisy atau suku Quraisy, namun kita tidak tahu siapakah Quraisy itu? Apakah Quraisy adalah nama seseorang atau hanya sebutan untuk sekelompok orang saja? Berikut ini cuplikan tentang Quraisy yang merupakan lanjutan dari kisah sebelumnya.

4. Qushay Mengambil Alih Mekah dari Khuza’ah

Qushay adalah salah seorang yang nasabnya bersambung sampai Nabi Ismail ‘alaihissalam, istilah Quraisy baru dikenal di zamannya, tidak pernah terdengar seseorang menyebut istilah Quraisy di masa-masa sebelumnya. Lalu siapakah Quraisy itu?

Para periwayat berbeda pendapat tentang penamaan ini. Ada yang mengatakan Quraisy adalah laqob dari Nadhar atau Fihr. Ada juga yang mengatakan, memang ada seseorang yang bernama Quraisy bin Badr bin Takhlud, ia adalah cucu dari Nadhar. Pendapat lain mengatakan Quraisy adalah istilah untuk menyebut dua kabilah terhormat yakni kabilah Nadhar dan Fihr. Kesimpulannya, Quraisy adalah nama yang dinisbatkan kepada Qushay dan kaumnya dari kalangan bani Fihr dan Nadhar, dan nama ini tidak dikenal kecuali di zamannya Qushay.

Atas dasar nasab dari keturunan Nabi Ismail Qushay dan kabilahnya merasa lebih berhak untuk mengurusi Mekah, lalu mereka mengadakan rencana untuk mengambil alihnya dari tangan orang-orang Khuza’ah. Pertumpahan darah pun terjadi dan berakhir dengan jatuhnya kekuasaan Khuza’ah atas tanah haram.

Setelah penaklukkan, Qushay mengumpulkan orang-orang Quraisy dan menempatkan mereka semua di sekitar Baitullah al-Haram. Ia juga membagi tugas di antara kabilah-kabilah Quraisy; memberi minum jamaah haji, memberi makanan, mengganti kiswah Ka’bah, dan tugas-tugas lainnya.

Jika dirinci peranan-peranan tersebut adalah sebagai berikut:

Pertama, hijabah atau sidanah yaitu merawat Ka’bah. Qushay menentukan kabilah tertentu dari kalangan Quraisy yang ditugaskan untuk mengurus segala sesuatu perihal Ka’bah.

Kedua, as-Siqayah yaitu memberikan minuman kepada para jamaah haji yang datang dari segala penjuru menuju tanah haram.

Ketiga, rifadah yaitu memberikan makanan kepada jamaah haji pada saat mereka berada di Mina dan memberikan mereka pakaian bagi yang membutuhkannya.

Keempat, liwa’ jabatan ini dikhususkan kepada ketua kabilah. Liwa’ semacam angkatan militer Quraisy yang berfungsi untuk peperangan dan mengawal kafilah-kafilah dagang Quraisy.

Keempat hal ini sebenarnya telah ada sebelum Qushay memerintah Mekah, hanya saja Qushay membagi-bagi kekuasaan tersebut kepada beberapa kabilah, agar persatuan dan kesatuan Quraisy tetap terjaga. Qushay mengatur politik tersebut agar masing-masing kabilah Quraisy merasa dipandang dan memiliki peranan sehingga tidak ada kecenderungan untuk memberontak.

Dari sini kita mengetahui, kebijakan menjamu jamaah haji adalah warisan orang-orang Arab terdahulu dan masih terpelihara hingga masa Kerajaan Arab Saudi sekarang. Semoga Allah senantiasa memberlangsungkan keadaan ini, dan memberikan keamanan serta kedamaian di daerah tersebut.

Selain itu, Qushay juga membuat Daar an-Nadwah, semacam gedung parlemen akan tetapi masih sangat sederhana. Daar an-Nadwah dibangun di dekat Ka’bah yang berfungsi sebagai tempat pertemuan pembesar dan tetua kabilah untuk mendiskusikan permasalahan-permasalahan yang mereka hadapi, termasuk kebijakan perdaganan luar negeri mereka.

Demikianlah pembagian kekuasaan di Mekah hingga diutusnya anak Quraisy yang paling mulia Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sumber: Alukah.net

Sejarah Kota Mekah

hadist.web.id
Pada abad ke IX SM, Nabi Ibrahim ‘alaihi shalatu wa salam keluar dari kampung halamannya di Syam menuju tanah Hijaz, menuju suatu lembah yang gersang, tidak memiliki tanaman, dan dipagari bukit-bukit berbatu. Di sinilah lahir sebagian dari keturunan Nabi Ibrahim, mengemban dakwah tauhid, dan kemudian tersebar ke seluruh penjuru dunia. Di kemudian hari negeri tersebut disebut Mekah.

Memang Mekah adalah daerah yang gersang tidak memiliki tumbuhan, cuaca yang terik dengan curah hujan yang rendah, namun daerah ini memiliki tempat tersendiri di hati umat Islam, wilayah ini dan penduduknya senantiasa dirindukan oleh hati-hati orang yang beriman. Yang demikian merupakan berkah dari doa Nabi Ibrahim yang Allah abadikan dalam firman-Nya,

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS. Ibrahim: 37)

Kapan Mekah Pertama Dihuni Manusia?

Tidak ada sumber yang benar-benar bisa dijadikan pijakan, kapan Mekah pertama kali dihuni atau siapa yang pertama kali memimpin di Mekah. Oleh karena itu, sejarawan berbeda pendapat dalam masalah ini. Ada yang mengatakan, penghuni pertama Mekah adalah Nabi Ibrahim‘alaihissalam. Alasannya, (1) Dalam doa Nabi Ibrahim di atas, beliau tidak menyebutkan balad (negeri), tetapi disebut dengan wadi (lembah), artinya tempat tersebut sepi tak berpenghuni. (2) Tidak ada ayat-ayat atau hadis-hadis yang shahih menjelaskan atau mengisayaratkan tentang kisah Mekah sebelum kedatangan Nabi Ibrahim. (3) Tidak ada syariat mensucikan Ka’bah dan menjadikan Mekah sebagai tanah haram serta menyeru manusia untuk mendatanginya kecuali setelah Nabi Ibrahim meninggali tempat tersebut.

Pendapat yang lain menyatakan bahwa sejarah Mekah tidak hanya dimulai pada masa Nabi Ibrahim atau nabi dan rasul sebelum beliua, bahkan sejarah Mekah telah ada sejak zaman Nabi Adam ‘alaihissalam. Mereka yang berpendapat demikian berargumentasi dengan ayat Alquran:

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ

“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.” (QS. Ali Imran: 96)

وَإِذْ بَوَّأْنَا لِإِبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ أَنْ لَا تُشْرِكْ بِي شَيْئًا

Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): “Janganlah kamu memperserikatkan sesuatupun dengan Aku…” (QS. Al-Hajj: 26)

وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al-Baqarah: 127)

Ayat pertama menjelaskan bahwa rumah pertama dibangun untuk manusia adalah rumah yang berada di Bakkah atau Mekah, sedangkan Nabi Ibrahim bukanlah manusia pertama otomatis rumah pertama tersebut bukan dibangun oleh beliau. Adapun kedua dan ketiga mengisyaratkan bahwa Nabi Ibrahim dan Ismail ‘alaihimassalambukanlah orang pertama yang membangun Ka’bah, keduanya hanya meninggikan bangunan tersebut.


Dengan demikian –menurut orang-orang yang memegang pendapat yang kedua-, Mekah sudah dimakmurkan sebelum Nabi Ibrahim memakmurkannya, bahkan ada yang mengatakan Mekah memiliki fase-fase yang berbeda di setiap zamannya. Kota tersebut pernah menjadi kota yang hijau ditumbuhi tanaman dan juga mengalami masa-masa kegersangan. Oleh karena itu, Mekah disebut ummul qura, ibunya negeri-negeri.

Kesimpulannya, kedua pendapat ini adalah buah dari analisis yang masing-masing memiliki argumentasi, bisa jadi yang pertama benar dan yang kedua salah, demikian juga sebaliknya. Keduanya memiliki kemungkinan benar.

Masa Nabi Ibrahim Menetap di Mekah

Nabi Ibrahim mengajak keluarganya menuju ke Mekah, lalu atas perintah Allah beliau meninggalkan istrinya, Hajar, bersama anaknya yang masih kecil bernama Ismail di lembah yang kering berbatu tersebut. Setelah beberapa tahun Nabi Ibrahim kembali ke Mekah. Beliau melihat lembah tersebut telah berubah; di sana sudah terdapat sumber air, dan ada masyarakat ikut tinggal di sana bersama istri dan anaknya, yakni kabilah Jurhum. Anaknya Ismail sudah beranjak tumbuh dan membaur bersama masyarakat. Mekah pun menjadi tempat orang-orang asing singgah dan cahaya agama muncul di sana.

Setelah itu, Nabi Ibrahim dan Ismail diperintahkan untuk membangun atau mengembalikan keadaan Bait al-Haram sebagaimana sedia kala. Ketika bangunan itu sempurna, Nabi Ibrahim diperintahkan menyeru manusia untuk berhaji ke Bait al-Haram. Dengan demikian semaraklah kota tersebut dan terkenal di kalangan masyarakat Arab.

Perintah Allah dan tujuan menetapkan keluarganya di Mekah telah Nabi Ibrahim tunaikan, beliau pun meninggalkan kota tersebut dengan mengamanatinya kepada anaknya Ismail.

Masa Antara Nabi Ismail dan Qushay (Quraisy)

1. Masa Nabi Ismail

Nabi Ismail ‘alaihissalam hidup selama 130 tahun. Dalam rentang waktu satu abad tersebut, beliau mengalami dua kali pernikahan. Istri pertama dari kabilah Qathura dan yang kedua dari Jurhum. Ayahnya, Nabi Ibrahim, pernah datang ke rumah Nabi Ismail di Hijaz akan tetapi mereka belum berjumpa pada saat itu, Nabi Ibrahim hanya berjumpa dengan istri dari anaknya ini. Mendengar banyak keluhan dari sang menantu, akhirnya Nabi Ibrahim memerintahkan putranya Ismail untuk menceraikan istrinya. Lalu menikahlah Nabi Ismail dengan wanita dari kabilah Jurhum.

Nabi Ismail dianugerahi 12 orang anak buah dari pernikahannya dengan wanita Jurhum. Anak-anak Nabi Ismail ditugasi untuk merawat Ka’bah, mengajarkan manasik haji, dan mendidik para jamaah haji dengan ajaran tauhid. Ada yang mengatakan bahwa anak-anaknya ini termasuk dari kalangan nabi namun bukan rasul.

Sepeninggal Nabi Ismail, penjagaan Baitullah al-Haram diamanatkan kepada putranya Nabit. Setelah itu para sejarawan berselisih pendapat apakah Nabit menguasai daerah ini hingga wafatnya atau ia serahkan kepada paman-pamannya dari kabilah Jurhum.

2. Jurhum Menguasai Mekah

Ibnu Hisyam menjelaskan dalam sirahnya, bahwa yang memerintah Mekah adalah dua kabilah besar, Jurhum dan Qathura. Jurhum memerintah wilayah utara Hijaz dan Qathura mengatur wilayah Selatannya. Keadaan demikian terus berlangsung hingga terjadi perselisihan antara dua kabilah ini yang mengakibatkan peperangan. Untuk memecah kebuntuan dan mengakhiri konflik, akhirnya dua kelompok ini mengadakan perundingan, hasilnya Jurhum menjadi kabilah yang memimpin Mekah.

Setelah lama berkuasa, mulailah kecongkakan dan sifat sewenang-wenang muncul di tengah orang-orang Jurhum. Mereka mulai lalai dalam mengurus Baitullah al-Haram, berbuat sewenang-wenang terhadap para peziarah yang berkunjung ke sana, bahkan melakukan perbuatan keji di dalam atau di dekat Baitullah al-Haram. Dua buah berhala yang bernama Isaf dan Nailah adalah sepasang manusia yang melakukan perbuatan keji di dekat al-Haram. Walaupun kisah mereka diriwayatkan dari tukang cerita, akan tetapi setidaknya hal itu menggambarkan situasi masyarakat Mekah saat itu.

3. Jurhum Diusir dan Khuza’ah Berkuasa

Berita-berita tentang kezaliman yang dilakukan oleh kabilah Jurhum membuat kabilah-kabilah lainnya pun mulai meresponnya. Lalu berserikatlah bani Abdu Manat dengan Khuza’ah untuk menggulingkan Jurhum dari tahta mereka. Peperangan pun tak dapat dielakkan lagi, Jurhum tak mampu mengatasi sekutu Bani Abdu Manat dan Khuza’ah. Akhirnya mereka pun terusir dari Mekah setelah mendiami tempat tersebut selama beberapa generasi.

Setelah kepergian Jurhum, kekuasaan Mekah dipegang oleh kabilah Khuza’ah. Ada yang menyatakan Khuza’ah berkuasa di Mekah selama 500 tahun, ada pula yang mengatakan 800 tahun, Allahu a’lam berapa tahun pastinya kabilah ini memegang tanggung jawab atas Baitullah al-Haram.

Salah seorang tokoh Khuza’ah yang paling terkenal adalah Amr bin Luhai al-Khuza’i. Amr adalah orang pertama yang membawa berhala-berhala menuju Baitullah al-Haram dan mengubah agama tauhid yang dibawa oleh Nabi Ibrahim dan Ismail.. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang Amr bin Luhai,

“Aku melihat Amr bin Amr bin Luhai mengeluarkan ususnya di neraka dan ia adalah orang pertama yang membuat-buat ajaran al-sayaaib (onta yang tidak boleh diberikan beban dan dikhususkan untuk nadzar sehingga dilepas makan dan minum apa saja dan tidak ditunggangi).” (HR. Bukhari, no. 3260).

Bersambung insya Allah…

Sumber: Alukah.net

Alexander Web, Da’i Pertama di Amerika

Alexander Russel Webb merupakan seorang sastrawan dan filsuf Amerika, ia dilahirkan pada tahun 1846 di Hudson, Columbia, negara bagian Amerika Serikat. Webb menerima pendidikan awal di Home School di Glendale, Massachusetts dan kemudian memasuki Claverack College, sekolah tinggi yang maju berdekatan dengan Hudson. Setelah itu ia hijrah ke New York dan meniti karir di kota yang dijuluki Big Apple ini.

Di New York inilah jiwa sastrawan yang memang sudah Webb miliki kian nampak. Ia menggeluti dunia pers dan banyak menulis artikel-artikel yang berpengaruh di hati para pembaca. Para pembaca sangat menanti-nanti tulisannya, terutama karya-karya cerpennya yang terkenal sangat menarik. Totalitas yang ia berikan mengantarkannya ke jabatan teritnggi sebagai ketua dewan redaksi surat kabar tempatnya bekerja.

Di tengah-tengah kesibukan Alexander Webb sebagai seorang jurnalis di Missouri Republican, ia tetap menyempatkan diri mempelajari beberapa agama. Ia mempelajari akidah Yahudi dengan berbagai sekte yang ada pada agama tersebut, mendalami ajaran Nasrani dengan madzhab-madzhabnya, dan mempelajari Islam dengan Alqurannya serta warisan-warisan ilmu yang ada pada Islam. Selain tiga agama besar ini, Alexander Web juga mempelajari ajaran Zoroaster, Konghucu, dan Budha.

Keislaman Alexander Russel Webb

Lama bergelut dengan dunia jurnalistik, nama Alexander Russel Webb pun kian terkenal, baik di kalangan masyarakat biasa maupun di tataran politisi dan pejabat negara. Kemampuannya mempengaruhi massa dan pengalamannya dalam memimpin, menjadi alasan pemerintah Amerika mengangkatnya sebagai perwakilan konsulat Amerika di Filipina pada tahun 1887.


Tak disangka, kepindahannya ke Filipina membawa perubahan yang besar dalam hidupnya. Ia menjadi seorang muslim dengan mengucapkan dua kalimat syahadat di negara Asia Tenggara tersebut. Setelah itu, Webb menambahkan nama Muhammad di depan nama aslinya sehingga namanya menjadi Muhammad Alexander Russel Webb.

Di awal keislamannya, Webb terjebak dalam ajaran Ahmadiyah karena korespondensinya dengan sahabatnya, seorang penganut Ahmadiyah yang berasal dari India. Seiring waktu berjalan Webb selalu menambah perbendaharaannya tentang Islam dengan membaca dan belajar langsung dari para ulama. Akhirnya ia terbebas dari pemahaman sesat Ahmadiyah.

Sultan Abdul Hamid II, Raja Turki Utsmani di kala itu, turut berbahagia dengan keislaman Webb. Sampai-sampai Sultan mengirim utusan khusus, Abdullah al-Jadawi, untuk bertemu dengannya. Pertemuan tersebut berdampak semakin tersebar luas berita keislaman Alexander Webb, dari sinilah ia mulai menjadi da’i di Amerika Serikat (Mausu’ah at-Tarikhiyah al-Jughrafiyah, 12: 55).

Di Amerika, Alexander Webb memulai dakwahnya dengan menulis sebuah artikel tentang latar belakang memeluk Islam. Ia mengatakan, “Aku menjadikan agama ini sebagai jalan hidupku. Setelah lama kupelajari beberapa agama, dan kubandingkan satu dengan yang lainnya, kudapati Islam sebagai agama terbaik bahkan ini adalah agama sejatinya. Islam memenuhi apa saja yang dibutuhkan oleh rohani dan jasmani. Di sini aku tekankan, ketika berusia dua puluh tahun, aku merasa jenuh dan depresi dengan kejumudan gereja, lalu kutinggalkan gereja dan tidak kembali lagi ke sana. Aku memiliki jiwa yang kritis, aku selalu meneliti setiap permasalahan yang kuhadapi. Aku juga menyadari bahwa orang-orang sangat lemah usaha dan pemikirannya untuk mengenali hakikat akidah ini.”

Kontribusi Terhadap Islam

Orang pertama yang menyerukan dakwah Islam di negeri Paman Sam adalah Muhammad Alexander Russel Webb. Di New York, Webb membangun sebuah Islamic Center yang memiliki agenda besar dalam menyebarkan Islam di Amerika. Islamic Center ini juga menjadi sumber bantuan untuk mendirikan masjid dan perpustakaan-perpustakaan Islam. Sumber dana utamanya adalah Daulah Utsmaniyah yang saat itu dipimpin oleh Sultan Abdul Hamid II. Dari sinilah Islam di Amerika mulai tumbuh di kota-kota lainnya.

Webb adalah wakil utama bagi Islam di konfrensi agama-agama tingkat dunia yang diadakan di Chicago1893. Pada 20 dan 21 September 1893, ia memberikan dua pidato. Pidatonya yang berjudul: Pengaruh Islam Terhadap Keadaan Sosial dan Semangat Islam telah diterbitkan sebanyak dua jilid besar yang diberi judul The First World’s Parliament of Religions(1894).

Selanjutnya ia menjadi juru bicara bagi Islam di Amerika. Banyak pemikir-pemikir terkemuka Amerika yang telah mendengar ucapannya mengenai pokok ajaran Islam di antaranya Mark Twain.

Wafatnya

Muhammad Alexander Russel Webb wafat pada tahun 1916 dengan usia lebih dari 70 tahun. Seorang penulis yang bernama Umar F. Abdullah menulis sebuah biografi untuk mengenangnya dengan judul A Muslim in Victorian America: The Life of Alexander Russell Webb.

Sumber: ‘Uzhama Aslamu

Teladan Abdurrahman bin Auf

hadist.web.id
Abdurrahman bin Auf radhiyallahu anhu, sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang lahir pada tahun ke-10 dari Tahun Gajah, jadi beliau berusia 10 tahun lebih muda dari baginda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Nama beliau pada masa jahiliyah adalah Abdu Amru dan pada pendapat yang lain adalah Abdu Ka’bah, tapi setelah memeluk Isalm Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengganti nama beliau menjadi Abdurrahman.

Nama lengkap beliau adalah Abdurrahman bin Auf bin Abdu Manaf bin Abdul Harits bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah al-Qurasyi al-Zuhri. Nasabnya bertemu dengan Nabi shallallahu alaihi wasallam pada Kilab bin Murrah. Kinayahnya adalah Abu Muhammad sedangkan laqabnya al-Shadiq al-Barr. Ibunya bernama Asysyifa binti ‘Auf bin Abdu bin al-Harits bin Zuhrah.

Beliau adalah salah satu sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam yang memiliki kekayaan yang sangat banyak dan juga memiliki sifat yang dermawan, kekeyaan belaiu diperoleh karena kemahirannya dalam berdagang. Ia termasuk salah satu sahabat nabi yang permulaan menerima Islam (Assabiqunal Awwaluun).

Abdurrahman memeluk agama Islam sebelum Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjadikan rumah al-Arqam sebagai pusat dakwah. Ia mendapatkan hidayah dari Allah SWT dua hari sesudah Abu Bakar Ash-Shiddiq masuk Islam. Seperti orang-orang yang pertama masuk islam lainnya, Abdurrahman pun tidak luput dari penyiksaan dan tekanan kaum kafir Quraisy. Namun hal tersebut tidak membuatnya bergeming sedikitpun, sekalipun maut akan menjemputnya. Ia tetap sadar dan konsisten membenarkan dan mengikuti risalah yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Lantaran konsistennya dalam menegakkan panji-panji Islam dan menjadi pengikut setia Rasulullah, kemudian ia menjadi salah seorang pelopor bagi orang-orang yang hijrah untuk Allah dan Rasulnya.

Saudagar yang Menyegerakan Infak

Abdurrahman bin Auf radhiyallahu anhu adalah sosok yang selalu bersegera dalam berinfak. Dalam riwayat, belaiu memiliki wajah yang tampan, kulit yang putih, rambut yang panjang hingga menutupi kedua belah telinganya dan memiliki bahu yang lebar. Beliau memiliki kemampuan berdagang yang sangat baik, sehingga apabila sudah mulai berdagang, maka beberapa saat kemudian beliau sudah kembali dengan membawa laba yang banyak.

Keuletannya berdagang serta doa dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, menjadikan perdagangannya semakin berhasil, sehingga ia termasuk salah seorang sahabat yang kaya raya. Kekayaan yang dimilikinya, tidak menjadikannya lalai. Tidak menjadi penghalang untuk menjadi dermawan.

Di samping itu, ia juga sosok pejuang yang pemberani. Ia mengikuti peperangan-peperangan bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Pada waktu perang Badr, ia berhasil membunuh salah satu dari musuh-musuh Allah, yaitu Umair bin Utsman bin Ka’ab At Taimi. Keberaniannya juga nampak tatkala perang Uhud, medan di mana banyak di antara kaum muslimin yang lari, namun ia tetap di tempatnya dan terus berperang sehingga diriwayatkan, ia mengalami luka-luka sekitar dua puluh sekian luka. Akan tetapi perjuangannya di medan perang masih lebih ringan, jika dibanding dengan perjuangannya dalam harta yang dimilikinya.

Salah satu bukti perjuangan beliau dengan harta yang dimilikinya adalah tatkala Rasulullah akan melaksanakan perang Tabuk. Yaitu sebuah peperangan yang membutuhkan banyak perbekalan. Maka datanglah Abdurrahman bin ‘Auf dengan membawa dua ratus ‘uqiyah emas dan menginfakkannya di jalan allah. Sehingga berkata Umar bin Khattab, ”Sesungguhnya aku melihat, bahwa Abdurrahman adalah orang yang berdosa karena dia tidak meninggalkan untuk keluarganya sesuatu apapun.” Maka bertanyalah Rasulullah kepadanya, ”Wahai Abdurrahman, apa yang telah engkau tinggalkan untuk keluargamu?” Dia menjawab, ”Wahai Rasulullah, aku telah meninggalkan untuk mereka lebih banyak dan lebih baik dari yang telah aku infakkan.” ”Apa itu?” tanya Rasulullah. Abdurrahman menjawab, ”Apa yang dijanjikan oleh Allah dan Rasul-Nya berupa rizki dan kebaikan serta pahala yang banyak.”

Dalam riwayat lainnya juga dikisahkan bahwa suatu ketika datanglah kafilah dagang Abdurrahman di kota Madinah, terdiri dari tujuh ratus onta yang membawa kebutuhan-kebutuhan. Tatkala masuk ke kota Madinah, terdengarlah suara hiruk pikuk. Maka berkata Ummul Mukminin, ”Suara apakah ini?” Maka dijawab, ”Telah datang kafilah Abdurrahman bin ‘Auf.” Ummul Mukminin berkata, ”Sungguh aku mendengar Rasulullah bersabda, ‘Aku melihat Abdurrahman masuk surga dengan keadaan merangkak’.” Ketika mendengarkan beritatersebut, Abdurrahman mengatakan, ”Aku ingin masuk surga dengan keadaan berdiri.” Maka segeralah diinfakkan seluruh kafilah dagang miliknya tersebut.

Selain itu kebaikannya kepada sesama tidak diragukan lagi, ketika ia menjual tanah seharga empat puluh ribu dinar, yang kemudian dibagikannya kepada Bani Zuhrah dan orang-orang fakir dari kalangan muhajirin dan Anshar. Ketika Aisyah mendapatkan bagiannya, ia berkata, ”Aku mendengar Rasulullah bersabda, tidak akan memperhatikan sepeninggalku, kecuali orang-orang yang bersabar. Semoga Allah memberinya air minum dari mata air Salsabila di surga.”

Dan patut diingat juga, beliau sangat memperhatikan Umahatul Mu’minin. Setelah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam wafat, Abdurrahman bin Auf selalu berusaha untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka. Menyertainya apabila mereka berhaji, yang ini merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi Abdurrahman. Dia juga pernah memberikan kepada mereka sebuah kebun yagn nilainya sebanyak empat ratus ribu dinar.

Hijrah Bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam

Abdurrahman turut dalam kelompok sahabat Rasulullah yang hijrah ke Habasyah untuk menyelamatkan diri dari tekanan kaum Quraisy yang tak henti-hentinya menteror mereka. Takkala Rasulullah SAW dan para sahabat hendak melakukan hijrah ke Madinah, Abdurrahman bin Auf termasuk orang yang menjadi pelopor kaum Muslimin untuk mengikuti ajakan Nabi yang mulia ini. Di kota Madinah, Rasulullah SAW banyak mempersaudarakan kaum Muhajirin dan kaum Anshor. Di antaranya Abdurrahman bin Auf yang dipersaudarakan dengan Sa’ad bin Rabi’ al-Anshory.

Lalu Sa’ad berkata kepadanya: Saudaraku! aku adalah salah seorang penduduk Madinah yang punya banyak harta, pilihlah dan ambillah dan aku juga mempunyai beberapa orang isteri, lihatlah salah satunya yang mana yang menarik hatimu sehingga aku bisa mentalaknya untukmu. Abdurrahman menjawab “semoga Allah memberkatimu pada hartamu dan keluargamu (akan tetapi) tunjukkanlah di mana letak pasarmu.” Merekapun menunjukkan pasar, maka beliaupun melakukan transaksi jual beli sehingga mendapatkan laba (yang banyak) dan telah mampu membeli keju dan lemak. Kemudian tidak lama berselang beliaupun sudah dipenuhi oleh wewangian (menikah). Lalu Rasulullah SAW. bertanya: “apa gerangan yang terjadi denganmu?”, Ia menjawab: “Wahai Rasulullah, aku telah menikah. Baginda bertanya: apa maharnya? Ia menjawab: “emas sebesar biji kurma”. Baginda bertanya kembali: “buatlah walimah (pesta perkawinan) walaupun dengan satu ekor kambing”.

Abdurrahman bin Auf boleh miskin materi, tapi ia tidak akan pernah menjadi miskin mental. Jangankan meminta, ia pun pantang menerima pemberian orang selain upahnya sendiri. ‘Tangan di bawah’ sama sekali bukan perilaku mulia. Abdurrahman bukan hanya tahu, melainkan memegang teguh nilai itu. Ia pun memutar otak bagaimana dapat keluar dari kemiskinan tanpa harus menerima pemberian orang lain. Ia hanya minta ditunjukkan jalan ke pasar. Ia pun pergi ke pasar dan mengamatinya secara cermat. Dari pengamatannya ia tahu, pasar itu menempati tanah milik seorang saudagar Yahudi. Para pedagang berjualan di sana dengan menyewa tanah tersebut, sebagaimana para pedagang sekarang menyewa kios di mal.


Kreativitas Abdurrahman pun muncul. Ia minta tolong saudara barunya untuk membeli tanah yang kurang berharga yang terletak di samping tanah pasar itu. Tanah tersebut lalu dipetak-petak secara baik. Siapa pun boleh berjualan di tanah itu tanpa membayar sewa. Bila dari berdagang itu terdapat keuntungan, ia menghimbau mereka untuk memberikan bagi hasil seikhlasnya. Para pedagang gembira dengan tawaran itu karena membebaskan mereka dari biaya operasional. Mereka berbondong pindah ke pasar baru yang dikembangkan Abdurrahman. Keuntungannya berlipat.

Dari keuntungan itu, Abdurahman mendapat bagi hasil. Semua gembira. Tak perlu makan waktu lama, Abdurrahman keluar dari kemiskinan, bahkan menjadi salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang paling berada. Kegigihannya dalam berdagang juga seperti yang beliau ungkapkan sendiri: “aku melihat diriku kalau seandainya aku mengangkat sebuah batu aku mengharapkan mendapatkan emas atau perak”

Perniagaan Dengan Hartanya di Jalan Allah

Dengan meningkatnya laba dari perniagaannya maka semakin bertambahlah harta dari Abdurrahman bin Auf, tetapi hal ini tidak membuat beliau menjadi kikir dan tamak. Bahkan beliau tidak segan-segan untuk menyumbangkan hartanya di jalan Allah dan disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa beliau menyumbangkan setengah dari hartanya. Hal ini seperti disebutkan bahwa Abdurrahman bin Auf menyumbangkan setengah dari hartanya sebanyak empat ribu dirham pada masa Rasulullah SAW., kemudian beliau menyumbangkan empat ribu dirham, kemudian empat puluh dinar, kemudian lima ratus kuda perang di jalan Allah, kemudian seribu lima ratus tunggangan/rahilah di jalan Allah, dan semuanya bersumber dari hasil dari perniagaan beliau.

Kemurahan hatinya untuk menyumbangkan hartanya di jalan tidak hanya berhenti dengan menyumbangkan setengah dari hartanya bahkan dalam kesempatan lainnya disebutkan bahwa beliau menyumbangkan keseluruhan hartanya. Hal ini seperti diceritakan oleh Ibnu Abbas r.a. bahwa manakala Abdurrahman bin Auf ditimpa oleh sebuah penyakit beliau mewasiatkan sepertiga hartanya, maka tatkala sembuh beliau menyumbangkan sendiri dengan tangannya, kemudian berkata: Wahai shahabat Rasulullah s.a.w.: saya akan memberikan sebanyak empat ratus dinar ke atas semua pasukan Badar, lalu Uthman dan beberapa orang lainnya datang menemuinya: lalu orang-orang bertanya kepadanya: “Wahai Abu Umar, bukankah anda orang kaya?” Ia berkata: “ini adalah pemberian dari Abdurrahman dan bukan sedekah, dan ia termasuk harta yang halal.” Setelah itu ia menyedekahkan sebanyak seratus lima puluh ribu dinar kepada mereka, lalu tatkala menjelang malam beliau duduk sendiri di rumahnya, lalu menuliskan sebuah catatan untuk membagikan semua hartanya kepada kaum muhajirin dan Anshar, bahkan beliau menulis termasuk baju yang dipakainya dalam catatan tersebut, dan tidak ada satupun yang disisakannya kecuali dibagikan semuanya kepada kaum fakir.

Ketika menunaikan shalat shubuh di belakang Rasulullah SAW. turunlah Jibril dan berkata: Wahai Muhammad sesungguhnya Allah berfirman kepadamu: sampaikanlah salamKu untuk Abdurrahman dan terimalah semua catatannya kemudian kembalikanlah semua kepadanya dan katakan kepadanya: Allah telah menerima sedekahmu dan ia adalah wakil Allah dan wakil RasulNya maka kembangkanlah hartanya sesuai dengan kemauannya, dan kelolalah hartanya sebagaimana yang telah dilakukan sebelumnya dan ia tidak akan diminta pertanggungjawab dan beritahulah kabar gembira (bahwa ia dijamin masuk syurga).

Disamping menyumbangkan hartanya untuk fakir miskin dan orang-orang muslim, beliau juga diceritakan merupakan orang yang paling banyak memerdekan hamba. Dalam sebuah riwayat Ja’far bin Burqan berkata: saya pernah mendengar bahwa Abdurrahman bin Auf telah memerdekakan hamba sebanyak tiga puluh ribu jiwa. Dan Abu Amr berkata: dalam satu riwayat disebutkan bahwa beliau memerdekakan sebanyak tiga puluh hamba dalam satu hari.

Beberapa keutamaan yang dimiliki oleh Abdurrahman bin Auf

I. Menjadi Imam Shalat saat bersama Rasulullah SAW
Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa dalam satu peperangan Rasulullah SAW. menjadi makmum Abdurrahman bin Auf. Dalam riwayatnya Amr bin Wahab mengatakan bahwa al-Mughirah bin Syu’bah menyebutkan bahwa menjelang shubuh hari Nabi mengajak al-Mughirah untuk menemaninya membuang hajat. Setelah buang hajat beliau Rasulullah SAW memintanya untuk mengambalikan air wudhu’ namun ternyata mereka sudah terlambat karena rombongan sedang menunaikan shalat yang diimami oleh Abdurrahman bin Auf. Ketika itu ia mencoba untuk menghentikan shalat jemaah tersebut dengan kembali mengumandangkan azan namun Nabi SAW. melarangnya sehingga Nabi SAW. menjadi makmun kepada Abdurrahman bin Auf.

II. Termasuk di dalam yang disebutkan kepastiannya masuk ke dalam surga

Beliau merupakan salah seorang sahabat Rasulullah SAW. yang dijamin masuk surga. Diriwayatkan dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Sa’id bin Zayd berkata: Rasulullah s.a.w. berkata: sepuluh orang yang dijamin masuk surga: Abu Bakar, Umar, Ali, Utsman, Zubair, Thalhah, Abdurrahman bin Auf, Abu Ubaidah bin al-Jarrah dan Sa’ad bin Abi Waqqas. Beliau berkata: beliau telah menyebutkan satu persatu dari yang sembilan orang dan kemudian berhenti sejenak pada bilang yang kesepuluh. Maka orang bertanya-tanya: kami memohon kepadamu atas nama Allah siapakah orang yang kesepuluh? Beliau menjawab: kalian meminta keseriusan saya atas nama Allah, (orang yang yang kesepuluh adalah) Abu al-A’war (kuniyah terhadap Sa’id bin Zaid)

III. Rasulullah SAW percaya terhadap kekuatan imannya

Ubaidillah bin Abdullah bin ‘Utbah bin Mas’ud berkata: Bahwa Rasulullah SAW. memberikan (sesuatu) kepada khalayak ramai dan tidak memberikan apapun kepada Abdurrahmah bin Auf sedangkan ia berada dalam khalayak tersebut, lalu Abdurrahman bin Auf keluar dari barisan tersebut dalam keadaan menangis, maka Umar bin Khattab melihat dan berkata: apa yang membuatmu menangis? Ia menjawab: Rasulullah s.a.w. memberikan sesuatu kepada orang ramai padahal saya ada di tengah orang-orang tersebut, maka aku takut Rasulullah s.a.w. tidak memberikan sesuatu kepadaku disebabkan oleh hal yang tidak disukai dariku. Beliau berkata: lalu Umar masuk menemui Nabi s.a.w. dan menceritakan peristiwa yang dialami oleh Abdurrahman bin Auf, lalu Rasulullah s.a.w. berkata: Saya tidak marah kepadanya akan tetapi telah menyerahkannya kepada keimanannya.

IV. Keilmuannya yang Dalam

Ibnu Abbas r.a. bahwa ketika Umar menuju ke Syam dan manakala sampai di Sara’ beliau dikabarkan bahwa Syam telah dilanda oleh penyakit waba’ (penyakit menular), lalu mengumpulkan semua shahabat Rasulullah s.a.w. dan meminta pendapat, sehingga muncullah berbagai pendapat namun beliau menyetujui pendapat untuk kembali (agar tidak meneruskan perjalanan). Tiba-tiba muncullah Abdurrahman bin Auf yang menghilang beberapa saat karena buang hajat lalu berkata: Sesungguhnya saya sangat mengerti masalah ini, karena aku pernah mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: apabila terjadi penyakit menular di suatu tempat maka janganlah kamu masuk ke dalamnya dan apabila terjadi di suatu tempat sedangkan kamu berada di dalamnya maka janganlah kamu keluar darinya karena lari dari penyakit tersebut.

V. Menjadi rujukan Umar

Anas r.a. menceritakan bahwa peminum khamar Nabi SAW dijatuhkan hukuman jilid dengan pelepah kurma dan sandal sebanyak empat puluh kali dan demikian juga Abu Bakar. Seterusnya Anas r.a. menceritakan ketika Umar diangkat menjadi Khalifah: sesungguhnya orang kampung telah datang ke kota, apa pendapat kalian tentang hukum peminum khamar? Lalu Abdurrahman bin Auf berkata: kita menetapkan hukumannya di bawah hukuman hudud maka (Umarpun) menetapkan hukuman sebanyak delapan puluh kali pukulan.

VI. Sifat Tawadhu

Walaupun beliau merupakan sosok shahabat Nabi s.a.w. yang telah dijanjikan masuk syurga namun beliau titel tersebut tidak menyebabkan beliau lupa diri. Sa’id bin Jubair berkata: Abdurrahman bin Auf tidak dapat dibedakan di antara hamba sahayanya.

Wafat dan Warisan dari Abdurrahman bin Auf

Abdurrahman bin Auf meninggal pada tahun 31H, dalam pendapat lain disebutkan pada tahun 32H ketika berumur 75 tahun. Dalam pendapat lain disebutkan berumur 72 tahun. Beliau dimakamkan di pemakaman Baqi’ yang diimami oleh Utsman berdasarkan wasiatnya. Diriwayatkan oleh Ibnu al-Najjar di dalam kitab Akhbar al-Madinah dengan sanadnya dari Abdurrahman bin Humaid dari Bapaknya berkata: ketika ajal hendak menjemputnya Aisyah mengirimkan seseorang kepadanya supaya dikuburkan di sisi Rasulullah SAW. dan kedua saudaranya, maka ia menjawab: saya tidak mau menyempitkan ruang rumahmu karena sesungguhnya saya telah berjanji kepada Ibnu Maz’un siapa saja yang meninggal maka akan dikuburkan di sisi sahabatnya dan dengan demikian makam Utsman bin Maz’un dan Abdurrahman bin Auf berada di sisi qubah Ibrahim bin Rasulullah SAW.

Saat wafat Abdurrahman bin Auf meninggalkan dua puluh delapan anak lelaki dan delapan anak perempuan. Hal yang sangat menarik sekali bahwa walaupun sudah menyumbangkan hampir keseluruhan hartanya di jalan Allah SWT. namun beliau masih meninggalkan harta warisan yang sangat banyak sekali. Dalam sebuah riwayat, diceritakan bahwa di antara harta peninggalan Abdurrahman bin Auf adalah emas murni sehingga tangan para tukang merasa kewalahan (lecet) untuk membagikannnya dan empat orang isterinya masing-masing menerima harta warisan sebanyak delapan puluh ribu dinar.

Abu Amr berkata: beliau adalah seorang pedagang sukses dalam bidang bidang perniagaan, sehingga mendapatkan laba yang sangat banyak dan meninggalkan sebanyak seribu unta, tiga ratus kambing, seratus kuda perang yang digembalakan di daerah Naqi’ dan mempunyai lahan pertanian sehingga kebutuhan keluarganya setahun dipasok dari hasil tanaman tersebut. 

Perjalanan Hidup Imam Ahmad bin Hanbal

Imam madzhab yang empat memiliki keistimewaan-keistimewaan yang saling melengkapi antara satu dan yang lainnya. Imam Abu Hanifahadalah pelopor dalam ilmu fikih dan membangun dasar-dasar dalam mempelajari fikih. Imam Malik adalah seorang guru besar hadits yang pertama kali menyusun hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamdalam satu buku. Imam Syafii merupakan ulama cerdas yang meletakkan rumus ilmu ushul fikih, sebuah rumusan yang membangun fikih itu sendiri.

Artikel ini akan mengenalkan kepada pembaca tokoh keempat dari imam-imam madzhab, dialah Imam Ahmad bin Hanbal. Beliau adalah seorang ahli fikih sekaligus pakar hadits di zamannya. Perjuangan besarnya yang selalu dikenang sepanjang masa adalah perjuangan membela akidah yang benar. Sampai-sampai ada yang menyatakan, Imam Ahmad menyelamatkan umat Muhammad untuk kedua kalinya. Pertama, Abu Bakar menyelematkan akidah umat ketika Rasulullah wafat dan yang kedua Imam Ahmad lantang menyerukan akidah yang benar saat keyakinan sesat khalqu Alquran mulai dilazimkan.

Nasab dan Masa Kecilnya

Beliau adalah Abu Abdillah, Ahmad bin Ahmad bin Muhammad bin Hanbal asy-Syaibani. Imam Ibnu al-Atsir mengatakan, “Tidak ada di kalangan Arab rumah yang lebih terhormat, yang ramah terhadap tetangganya, dan berakhlak yang mulia, daripada keluarga Syaiban.” Banyak orang besar yang terlahir dari kabilah Syaiban ini, di antara mereka ada yang menjadi panglima perang, ulama, dan sastrawan. Beliau adalah seorang Arab Adnaniyah, nasabnya bertemu denga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada Nizar bin Ma’ad bin Adnan.

Imam Ahmad dilahirkan di ibu kota kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad, Irak, pada tahun 164 H/780 M. Saat itu, Baghdad menjadi pusat peradaban dunia dimana para ahli dalam bidangnya masing-masing berkumpul untuk belajar ataupun mengajarkan ilmu. Dengan lingkungan keluarga yang memiliki tradisi menjadi orang besar, lalu tinggal di lingkungan pusat peradaban dunia, tentu saja menjadikan Imam Ahmad memiliki lingkungan yang sangat kondusif dan kesempatan yang besar untuk menjadi seorang yang besar pula.

Imam Ahmad berhasil menghafalkan Alquran secara sempurna saat berumur 10 tahun. Setelah itu ia baru memulai mempelajari hadits. Sama halnya seperti Imam Syafii, Imam Ahmad pun berasal dari keluarga yang kurang mampu dan ayahnya wafat saat Ahmad masih belia. Di usia remajanya, Imam Ahmad bekerja sebagai tukang pos untuk membantu perekonomian keluarga. Hal itu ia lakukan sambil membagi waktunya mempelajari ilmu dari tokoh-tokoh ulama hadits di Baghdad.

Perjalanan Menuntut Ilmu


Guru pertama Ahmad bin Hanbal muda adalah murid senior dari Imam Abu Hanifah yakni Abu Yusuf al-Qadhi. Ia belajar dasar-dasar ilmu fikih, kaidah-kaidah ijtihad, dan metodologi kias dari Abu Yusuf. Setelah memahami prinsip-prinsip Madzhab Hanafi, Imam Ahmad mempelajari hadits dari seorang ahli hadits Baghdad, Haitsam bin Bishr.

Tidak cukup menimba ilmu dari ulama-ulama Baghdad, Imam Ahmad juga menempuh safar dalam mempelajari ilmu. Ia juga pergi mengunjungi kota-kota ilmu lainnya seperti Mekah, Madinah, Suriah, dan Yaman. Dalam perjalanan tersebut ia bertemu dengan Imam Syafii di Mekah, lalu ia manfaatkan kesempatan berharga tersebut untuk menimba ilmu dari beliau selama empat tahun. Imam Syafii mengajarkan pemuda Baghdad ini tidak hanya sekedar mengahfal hadits dan ilmu fikih, akan tetapi memahami hal-hal yang lebih mendalam dari hadits dan fikih tersebut.

Walaupun sangat menghormati dan menuntut ilmu kepada ulama-ulama Madzhab Hanafi dan Imam Syafii, namun Imam Ahmad memiliki arah pemikiran fikih tersendiri. Ini menunjukkan bahwa beliau adalah seorang yang tidak fanatik dan membuka diri.

Menjadi Seorang Ulama

Setelah belajar dengan Imam Syafii, Imam Ahmad mampu secara mandiri merumuskan pendapat sendiri dalam fikih. Imam Ahmad menjadi seorang ahli hadits sekaligus ahli fikih yang banyak dikunjungi oleh murid-murid dari berebagai penjuru negeri Islam. Terutama setelah Imam Syafii wafat di tahun 820, Imam Ahmad seolah-olah menjadi satu-satunya sumber rujukan utama bagi para penuntut ilmu yang senior maupun junior.

Dengan ketenarannya, Imam Ahmad tetap hidup sederhana dan menolak untuk masuk dalam kehidupan yang mewah. Beliau tetap rendah hati, menghindari hadiah-hadia terutama dari para tokoh politik. Beliau khawatir dengan menerima hadiah-hadiah tersebut menghalanginya untuk bebas dalam berpendapat dan berdakwah.

Abu Dawud mengatakan, “Majelis Imam Ahmad adalah majelis akhirat. Tidak pernah sedikit pun disebutkan perkara dunia di dalamnya. Dan aku sama sekali tidak pernah melihat Ahmad bin Hanbal menyebut perkara dunia.”

Masa-masa Penuh Cobaan

Pada tahun 813-833, dunia Islam dipimpin oleh Khalifah al-Makmun, seorang khalifah yang terpengaruh pemikiran Mu’tazilah. Filsafat Mu’tazilah memperjuangkan peran rasionalisme dalam semua aspek kehidupan, termasuk teologi. Dengan demikian, umat Islam tidak boleh hanya mengandalkan Alquran dan sunnah untuk memahami Allah, mereka diharuskan mengandalkan cara filosofis yang pertama kali dikembangkan oleh orang Yunani Kuno. Di antara pokok keyakinan Mu’tazilah ini adalah bahwa meyakini bahwa Alquran adalah sebuah buku dibuat, artinya Alquran itu adalah makhluk bukan kalamullah.

Al-Makmun percaya pada garis utama pemikiran Mu’tazilah ini, dan ia berusaha memaksakan keyakinan baru dan berbahaya tersebut kepada semua orang di kerajaannya –termasuk para ulama. Banyak ulama berpura-pura untuk menerima ide-ide Mu’tazilah demi menghindari penganiayaan, berbeda halnya dengan Imam Ahmad, beliau dengan tegas menolak untuk berkompromi dengan keyakinan sesat tersebut.

Al-Makmun melembagakan sebuah inkuisisi (lembaga penyiksaan) dikenal sebagai Mihna. Setiap ulama yang menolak untuk menerima ide-ide Muktazilah dianiaya dan dihukum dengan keras. Imam Ahmad, sebagai ulama paling terkenal di Baghdad, dibawa ke hadapan al-Makmun dan diperintahkan untuk meninggalkan keyakinan Islam fundamentalnya mengenai teologi. Ketika ia menolak, ia disiksa dan dipenjarakan. Penyiksaan yang dilakukan pihak pemerintah saat itu sangatlah parah. Orang-orang yang menyaksikan penyiksaan berkomentar bahwa bahkan gajah pun tidak akab bisa bertahan jika disiksa sebagaimana Imam Ahmad disiksa. Diriwayatkan karena keras siksaannya, beberapa kali mengalami pingsan.

Meskipun demikian, Imam Ahmad tetap memegang teguh keyakinannya, memperjuangkan akidah yang benar, yang demikian benar-benar menginspirasi umat Islam lainnya di seluruh wilayah Daulah Abbasiah. Apa yang dilakukan Imam Ahmad menunjukkan bahwa umat Islam tidak akan mengorbankan akidah mereka demi menyenangkan otoritas politik yang berkuasa. Pada akhirnya, Imam Ahmad hidup lebih lama dari al-Makmun dan Khalifah al-Mutawakkil mengakhiri Mihna pada tahun 847 M. Imam Ahmad dibebaskan, beliau pun kembali diperkenankan mengajar dan berceramah di Kota Baghdad. Saat itulah kitab Musnad Ahmad bin Hanbal yang terkenal itu ditulis.

Wafatnya Imam Ahmad

Imam Ahmad wafat di Baghdad pada tahun 855 M. Banan bin Ahmad al-Qashbani yang menghadiri pemakaman Imam Ahmad bercerita, “Jumlah laki-laki yang mengantarkan jenazah Imam Ahmad berjumlah 800.000 orang dan 60.000 orang wanita .”

Warisan Imam Ahmad yang tidak hanya terbatas pada permasalahn fikih yang ia hasilkan, atau hanya sejumlah hadits yang telah ia susun, namun beliau juga memiliki peran penting dalam melestarikan kesucian keyakinan Islam dalam menghadapi penganiayaan politik yang sangat intens. Kiranya inilah yang membedakan Imam Ahmad dari ketiga imam lainnya.

Selain itu, meskipun secara historis Madzhab Hanbali adalah madzhab termuda dalam empat madzhab yang ada, banyak ulama besar sepanjang sejarah Islam yang sangat terpengaruh oleh Imam Ahmad dan pemikirannya, seperti: Abdul Qadir al-Jailani, Ibnu Taimiyah, Ibnu al-Qayyim, Ibnu Katsir, dan Muhammad bin Abd al-Wahhab.

Semoga Allah Ta’ala menerima amalan Imam Ahmad bin Hanbal dan menempatkannya di surge yang penuh kenikmatan.

Sumber:
- Islamstory.com
- Lostislamichistory.com

Muhammad bin al-Qashim Penakluk India

Ketika Rasulullah berdakwah di Thaif, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallamdiusir oleh kabilah Tsaqif yang mendiami wilayah Thaif tersebut. Lalu datanglah Malaikat Jibril yang mengatakan, ‘Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla telah mendengar perkataan kaummu kepadamu dan penolakan mereka terhadapmu. Dan Allah ‘Azza wa Jalla telah mengirimkan malaikat penjaga gunung untuk engkau perintahkan melakukan apa saja yang engkau mau atas mereka’. Malaikat (penjaga) gunung menyapa Rasulullah dan mengucapkan salam lalu berkata, ‘Wahai Muhammad! Jika engkau mau, aku bisa menimpakan Akhsabain’.”

Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “(Tidak) namun aku berharap supaya Allah ‘Azza wa Jalla melahirkan dari anak keturunan mereka orang yang beribadah kepada Allah semata, tidak mempersekutukan-Nya dengan apapun juga”. (HR Imam al-Bukhari dan Imam Muslim).

Kurang lebih satu abad kemudian, salah seorang putra dari bani Tsaqif membuat orang-orang India terkagum-kagum dengan agama yang didakwahkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Putra bani Tsaqif tersebut adalah Muhammad bin al-Qashim ats-Tsaqafi.

Kelahiran Muhammad bin al-Qashim

Muhammad bin al-Qashim dilahirkan di Thaif pada tahun 72 H, kakeknya Muhammad bin al-Hakam adalah pembesar bani Tsaqif. Pada tahun 75 H, Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi diangkat oleh Khalifah Abdul Malik bin Marwan menjadi gubernur Irak, Hajjaj pun mengangkat pamannya al-Qashim, ayah dari Muhammad bin al-Qashim, menjadi wali di wilayah Bashrah. Akhirnya Muhammad yang kala itu baru berumur 3 tahun turut pindah bersama ayahnya dari Thaif (sebuah kota di dekat Mekah) menuju Bashrah di Irak.

Hajjaj yang terkenal dengan pemimpin yang menaruh perhatian sangat besar dalam kekuatan militer dan ekspansi, mempengaruhi jiwa sepupunya Muhammad bin al-Qashim. Muhammad tumbuh dalam lingkungan militer, ia berlatih menunggang kuda sejak kecil, dan turut serta dalam latihan-latihan bela diri dan peperangan, sampai akhirnya ia menjadi seorang panglima perang umat Islam.

Karakter Muhammad bin al-Qashim

Sebagaimana yang terjadi di dunia militer modern, seorang panglima memiliki leadership, keberanian, pemikiran yang matang, dan sifat-sifat lainnya yang membantunya membuat keputusan cepat dan tepat terutama saat berada di medan perang, Muhammad bin al-Qashim juga dianugerahi sifat-sifat demikian. Bisa jadi sifat-sifat ini muncul karena lingkungan masa kecilnya yang menempa dirinya. Terbukti pada usia 17 tahun ia dipilih oleh Hajjaj bin Yusuf memimpin pasukan besar menuju India.

Hajjaj bin Yusuf pernah menasihatinya agar berbuat baik terhadap musuh, memahami dan mengasihi mereka. Namun yang terpenting kata Hajjaj, tunjukkanlah keberanianmu bahwa engkau tidak takut peperangan dan kematian.

Di antara kebiasaan Muhammad al-Qashim adalah ia pasti membangun masjid di setiap daerah-daerah yang ia taklukkan. Menurutnya masjid sebagai simbol eksistensi ajaran Islam dan penyebaran keilmuan dan kebudayaan Islam.


Menaklukkan India

Sebagaimana telah kita ketahui, bahwa Islam tidak menyebarkan ajarannya dengan pedang, akan tetapi ada latar belakang yang menjadi alasan mengapa ekspansi itu dilakukan. Pada tahun 90 H, 12 kapal laut yang memuat barang-barang dagangan, pedagang, dan wanita muslimah ditangkap oleh perompak di wilayah Sindh (Pakistan). Hajjaj bin Yusuf pun menyiapkan pasukan untuk membebaskan umat Islam dari tawanan bajak laut Hindustan ini.

Hajjaj mengutus Abdullah bin Nahban, namun ia gugur dalam misi ini. Kemudian pemberangkatan kedua dipimpin oleh Budail bin Thahfah al-Bajali, Budail pun mengalami nasib serupa dengan Abdullah bin Nahban. Hajjaj pun marah besar setelah melihat pasukan-pasukannya dikalahkan oleh orang-orang Sindh, ia bersumpah untuk menaklukkan negeri ini dan berjanji agar umat Islam bisa memasuki pusat kota negeri tersebut.

Setelah Hajjaj berdiskusi dengan Khalifah al-Walid bin Abdul Malik, terpilihlah Muhammad bin al-Qashim sebagai panglima perang dalam ekspansi menuju India. Hajjaj memandang, Muhammad bin al-Qashim memiliki keberanian, berjiwa komando, dan memiliki keteguhan hati.

Muhammad bin al-Qashim segera membekali pasukannya dengan alat-alat perang, termasuk alat berat seperti manjanik. Setelah persiapan di rasa cukup, berangkatlah Muhammad bin al-Qashim bersama 20.000 pasukan terbaik menuju India, pemberangkatan pasukan ini terjadi pada tahun 90 H.

Sepanjang perjalanan menuju India, kota demi kota berhasil ditaklukkan oleh Muhammad bin al-Qashim beserta pasukannya. Setelah menempuh perjalanan selama dua tahun, akhirnya Muhammad bin al-Qashim memasuki wilayah Sindh. Ia langsung memerintahkan pasukannya untuk menggali parit besar dan bersiap-siap untuk menghadapi peperangan dengan pasukan Sindh yang dipimpin oleh Raja Dahir Sen.

Peperangan dahsyat pun terjadi antara kedua pasukan besar ini. Namun, orang-orang Sindh tidak bisa menyamakan Muhammad bin al-Qashim dan pasukannya dengan dua pasukan terdahulu. Selain memiliki jenderal perang yang tangguh, perbekalan materi dan jumlah pasukan Islam kali ini memadai untuk meruntuhkan kesombongan para penyembah berhala ini. Pasukan Sindh berhasil ditaklukkan dan Raja Dahir Sen tewas di medan pertempuran. Ibu kota Sindh jatuh ke tangan umat Islam.

Muhammad bin al-Qashim meneruskan ekspansi militernya ke wilayah-wilayah Sindh yang lain demi membersihkan berhala-berhala dari negeri tersebut. Wilayah Sind mulai dari Dibal hingga Punjab berhasil ditaklukkan oleh Muhammad bin al-Qashim dan pasukannya. Penaklukkan ini berakhir pada tahun 96 H. Setelah itu, umat Islam menyibukkan diri mereka dengan mendakwahi para penyembah berhala ini. Rakyat Sindh begitu antusias dengan ajaran Islam, mereka begitu tertarik dengan prinsip persamaan yang tidak mereka dapati pada ajaran Hindu. Demikian juga orang-orang Budha yang sebelumnya direndahkan oleh orang-orang Hindu mendapatkan hak yang sama seperti masyarakat Sindh lainnya. Tersebarlah cahaya Islam di tanah Hindustan dan berdirilah kerajaan Islam di tanah Sindh (Pakistan).

Wafatnya

Kematian Muhammad bin al-Qashim adalah suatu peristiwa yang sangat menyedihkan, apalagi wafatnya ini bukanlah tewas di medan peperangan sebagaimana para pejuang lainnya, akan tetapi korban dari sebuah kedengkian. Ia difitnah dianggap terlibat dalam skandal politik yang terjadi antara Hajjaj bin Yusuf dengan Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik.

Ia pun dijebloskan ke penjara Irak dan mengalami berbagai siksaan, sampai akhirnya ia wafat di penjara pada tahun 95 H. Tidak hanya orang Arab yang menangisi kepergiannya, umat Islam di Sindh sangat terpukul mendengar kepergiannya, demikian juga orang-orang Budha dan Hindu turut berduka karena kehilangan sosok pemimpin yang mereka cintai. Orang-orang India (non muslim) menggambar sosok Muhammad bin al-Qashim di dinding-dinding mereka untuk mengenang sang pahlawan.

Muhammad bin al-Qashim wafat di usia yang masih sangat beliau, belum genap menginjak 24 tahun. Dan sampai sekarang Islam di Pakistan tetap tersebar buah dari dakwahnya. Semoga Allah merahmati Muhammad bin al-Qashim.

Note: Dulu Pakistan masih di wilayah India
Disarikan dari tulisan Dr. Imad Ajwah

Runtuhnya Kerajaan Granada, Kerajaan Islam Terakhir di Spanyol

hadist.web.id
Pada tahun 711, umat Islam mulai memasuki semenanjung Iberia. Dengan misi mengakhiri kekuasaan tiran, Raja Roderick. Umat Islam di bawak kepemimpinan Thariq bin Ziyad menyeberangi lautan yang memisahkan Maroko dan daratan Spanyol. Tujuh tahun kemudian, sebagian besar wilayah semenanjung Iberia (Spanyol dan Portugal sekarang) berhasil diduduki oleh umat Islam. Dan kekuasaan tersebut berlanjut selama lebih dari 700 tahun.

Pada tahun 900-an M, Islam mencapai puncak kejayaannya di tanah Andalusia. Lebih dari 5 juta muslim tinggal di daerah tersebut, dengan prosentase mencapai 80% penduduk. Kerajaan yang kuat kala itu, Dinasti Umayah II menjadi penguasa tunggal di daerah tersebut dan menjadi kerajaan yang paling maju dan palign stabil kondisi sosialnya di daratan Eropa. Namun, masa keemasan sosial dan politik ini tidaklah abadi. Pada tahun 1000-an M, kerjaan ini runtuh dan terpecah-pecah menjadi beberapa negara kecil yang disebut tha-ifah.

Thaifah-thaifah muslim ini adalah wilayah yang memiliki otonomi masing-masing sehingga sangat rentan diserang oleh kerajaan-kerajaan Kristen Eropa yang berada di wilayah Utara. Sepanjang dua ratus tahun berjalan, satu per satu thaifah berhasil ditaklukkan oleh kerajaan-kerajaan Kristen Eropa (Reconquista). Dan akhirnya pada tahun 1240-an M, hanya tersisa satu kerajaan Islam saja di benua biru tersebut, di ujung Selatan tanah Andalusia, itulah Kerajaan Granada.

Tulisan yang singkat ini akan memaparkan bagaimana kerajaan Islam terakhir di Eropa ini runtuh.

Emirat Granada

Selama terjadinya reconquista, kerajaan Islam satu per satu jatuh ke wilayah kekuasaan kerajaan Kristen yang melakukan penyerangan dari Utara. Dimulai dari tahun 1000-an hingga 1200-an, kota-kota utama semisal Cordoba, Sevilla, Toledo bergiliran dikuasai. Gerakan al-Murabitun dan Muwahidun (yang kemudian menjadi sebuah daulah pen.) di Afrika Utara, turut memiliki andil membantu Kristen Eropa, meskipun perpecahan umat Islam adalah faktor utama yang menyebabkan keruntuhan Islam di Eropa.

hadist.web.id
Pegunungan Sierra Nevada yang menjadi benteng alami Kerajaan Granada

Pada era tersebut, tahun 1200-an, Granada sempat berhasil menghindarkan diri dari penaklukkan kerajaan-kerajaan Eropa. Setelah jatuhnya Kota Cordoba, Granada menyepakati perjanjian dengan Kerajaan Castile, salah satu kerajaan Kristen yang terkuat di Eropa. Perjanjian tersebut berisikan kesediaan dan ketundukan Granada dengan membayar upeti berupa emas kepada Kerajaan Castile setiap tahunnya. Timbal baliknya, Castile menjamin independensi Granada dalam urusan dalam negeri mereka dan lepas dari ancaman invasi Castile.

Selain membayar upeti, faktor lain yang membantu Granada terhindar dari penklukkaan adalah letak geografisnya. Kerajaan ini terletak di kaki pegunungan Sierra Nevada yang menjadi benteng alami melindungi kerajaan dari invasi pihak-pihak luar.

Peperangan Kerajaan Granada

Selama lebih dari 250 tahun, Granada tetap tunduk kepada Castile dengan membayar upeti. Namun dikelilingi oleh kerajaan-kerajaan Kristen yang tidak bersahabat tetap saja membuat Granada dalam keadaan terancam. Mereka tidak pernah aman dari ancaman penaklukkan.

Peninggalan-peninggalan Islam di Spanyol

hadist.web.idSuratan takdir tentang keruntuhan Granada pun dimulai, ketika Raja Ferdinand dari Aragon menikah dengan Putri Isabella dari Castile. Pernikahan ini menyatukan dua kerajaan terkuat di semenanjung Iberia yang merajut cita-cita yang satu, menaklukkan Granada dan menghapus jejak-jejak Islam di benua biru.

Tahun 1482 pertempuran antara Kerajaan Kristen Spanyol dan emirat Granada pun dimulai. Meskipun secara jumlah dan kekuatan materi Granada kalah jauh, namun semangat juang masyarakat muslim Granada sangatlah besar, mereka berperang dengan penuh keberanian. Sejarawan Spanyol mengatakan, “Orang-orang muslim mencurahkan seluruh jiwa raga mereka dalam peperangan, mereka layaknya seseorang pemberani dengan tekad yang kuat mempertahankan diri mereka, istri, dan anak-anak mereka.” Demikian juga masyarakat sipil Granada, mereka turut serta dalam peperangan dengan gagah berani, mempertahankan tanah air mereka dan mempertahankan eksistensi Islam di tanah Eropa.

Saat itu, orang-orang Kristen bersatu padu, tidak lagi berpecah belah sebagaimana keadaan mereka di masa lalu. Beda halnya dengan Granada yang malah menghadapi pergolakan politik. Para pemimpin muslim dan para gubernur cenderung saling sikut, memiliki ambisi yang berbeda-beda, dan berusaha saling melengserkan satu sama lain. Di antara mereka ada yang berperan sebagai mata-mata Kristen dengan iming-iming imbalan kekayaan, tanah, dan kekuasaan. Lebih parah dari itu, pada tahun 1483, Sultan Muhammad, anak dari Sultan Granada, mengadakan pemberontakan terhadap ayahnya sehingga memicu terjadinya perang sipil.


Raja Ferdinand benar-benar memanfaatkan situasi ini untuk membuat Granada kian lemah, ia mendukung pemberontakan Sultan Muhammad melawan ayah dan anggota keluarganya. Pasukan-pasukan Kristen dikerahkan oleh Ferdinand turut berperang bersama Sultan Muhammad menghadapi anggota keluarganya. Akhirnya Sultan Muhammad berhasil menaklukkan anggota kerajaan dan menguasai Granada. Namun kekuasaannya ini hanya terbatas di wilayah Kota Granada saja, karena pasukan Kristen menekan dan mengambil wilayah-wilayah pedesaannya.

Akhir dari Granada

Tidak lama setelah menguasai Granada, Sultan Muhammad mendapat surat dari Raja Ferdinand untuk menyerahkan Granada ke wilayah kekuasaannya. Sang sultan pun terkejut dengan permintaan Raja Ferdinand, karena ia menyangka Raja Ferdinand akan memberikan wilayah Granada kepadanya dan membiarkannya menjadi raja di wilayah tersebut.

Akhirnya Sultan Muhammad sadar bahwa ia hanya dimanfaatkan sebagai pion oleh Ferdinand untuk melemahkan dan mempermudah jalan pasukan Kristen menaklukkan Granada. Muhammad berusaha untuk menggalang kekuatan dengan bersekutu bersama prajurit Islam di Afrika Utara dan Timur Tengah untuk memerangi kekuatan Kristen Eropa. Namun bantuan yang diharapkan Muhammad tidaklah sesuai dengan harapannya. Turki Utsmani hanya mengirimkan sekelompok kecil angkatan laut yang tidak berpengaruh banyak terhadap kekuatan Kristen Eropa.

Pada tahun 1491, Granada dikepung oleh pasukan-pasukan Raja Ferdinand dan Ratu Isabella. Dari menara istananya, Muhammad melihat pasukan Kristen dalam jumlah yang besar telah mengepung dan bersiap menyerang Granada. Muhammad pun dipaksa untuk menandatangani surat penyerahan Granada kepada pasukan sekutu Kristen. Peristiwa ini terjadi pada November 1491.

hadist.web.id

Pada tanggal 2 Januari 1492, pasukan Kristen memasuki Kota Granada. Pasukan-pasukan ini memasuki istana Alhambra, mereka memasang bendera-bendera dan simbol-simbol kerajaan Kristen Eropa di dinding-dinding istana sebagai tanda kemenangan, dan di menara tertinggi istana Alhambra mereka pancangkan bendera salib agar rakyat Granada mengetahui siapa penguasa mereka sekarang. Keadaan saat itu benar-benar mencekam, rakyat muslim Granada tidak berani keluar dari rumah-rumah mereka dan jalanan pun lengang dari hiruk pikuk manusia.

Setelah itu, Sultan Muhammad diasingkan. Beberapa saat perjalanan, di puncak gunung, ia menoleh kepada bekas wilayahnya sambil menitikkan air mata. Ibunya yang melihat keadaan itu tidak simpatik kepada putranya, bahkan ia memarahinya dengan mengatakan, “Jangan engkau menangis seperti perempuan, karena engkau tidak mampu mempertahankan Granada layaknya seorang laki-laki”.

Orang-orang Kristen menjanjikan toleransi dan kedamaian terhadap masyarakat Islam Granada, walaupun kemudian perjanjian itu mereka batalkan sendiri. Ribuan umat Islam terbunuh dan yang lainnya mengungsi menyeberang lautan menuju wilayah Afrika Utara.

Itulah akhir dari peradaban Islam di Spanyol yang telah berlangsung lebih dari tujuh abad lamanya. Cahaya Islam menghilang dari daratan tersebut dengan terusir dan tewasnya umat Islam di sana, kemudian diganti dengan pendatang-pendatang Kristen yang menempati wilayah tersebut.

Sumber: lostislamichistory.com

Mengenal Kerajaan Syiah, Daulah Fatimiyah

Pembahasan mengenai Daulah Fatimiyah adalah pembahasan yang menarik, karena kontroversi yang ditimbulkan oleh daulah ini cukup menggegerkan dunia Islam. Ada yang mengatakan kerajaan ini memiliki sumbangsih besar mengenalkan umat Islam pada ilmu pengetahuan, karena merekalah yang membangun Universitas al-Azhar. Di sisi lain, kerajaan ini dikatakan sebagai kerajaan ekstrim yang intoleran, menindas muslim Sunni atau Ahlussunnah wal Jamaah. Sejarah kerajaan yang dipenuhi dengan penindasan, penipuan, dan penyimpangan dari ajaran Islam juga menjadi sisi lain yang perlu diangkat dan diketengahkan.

Akidah Syiah Ismaailiyah

Sebelum membahas kekuatan politik Daulah Fatimiyah, terlebih dahulu kita membahas ideologi kerajaan ini, karena inilah yang melandasi gerakan politiknya. Daulah Fatimiyah adalah sebuah kerajaan yang berideologi Syiah, lebih tepatnya Syiah Ismailiyah. Syiah Ismailiyah adalah sekte Syiah yang meyakini bahwa Ismail bin Ja’far adalah imam ketujuh, adapun mayoritas Syiah (Syiah Itsna Asyriyah) meyakini bahwa Musah bin Ja’fa-lah imam ketujuh setelah Ja’far ash-Shadiq. Perbedaan dalam permasalahan pokok ini kemudian berkembang ke berbagai prinsip ajaran yang lain yang semakin membedakan ajaran Syiah Ismailiyah dengan Syiah arus utama, Syiah Itsna Asyriyah, sehingga ajaran ini menjadi sekte tersendiri.

Ismailiyah memiliki keyakinan yang menyimpang jauh dari ajaran dan akidah Islam. Sebagaimana sekte Syiah lainnya, Syiah Ismailiyah juga meyakini bahwa para imam terjaga dari perbuatan dosa, mereka adalah sosok yang sempurna, dan tidak ada celah sama sekali. Para imam juga dianggap memiliki kemampuan-kemampuan rububiyah, pendek kata, para imam merupakan perwujudan Tuhan di muka bumi.

Tentu saja pandangan Ismailiyah ini bertentanga dengan nilai-nilai tauhid yang diajarkan Islam. Mereka mengultuskan para imam mereka sebagaimana Nasrani mengultuskan Nabi Isa ‘alaihissalam. Atas dasar ini, para ulama menyimpulkan bahwa Syiah Ismailiyah bukanlah bagian dari Agama Islam. Dengan demikian, otomatis Daulah Fatimiyah tidak dianggap sebagai kerajaan Islam dan peninggalan-peninggalan mereka juga tidak dikategorikan sebagai warisan budaya Islam.

Munculnya Dinasti Fatimiyah


Setelah mengetahui dasar ideologi Syiah Ismailiyah, umat Islam menolak ajaran ini dengan terang-terangan, akibatnya orang-orang yang berpegang pada ajaran ini menyembunyikan keyakinan kufur mereka. Sepanjang tahun 800-an hingga awal 900-an M, mereka menyebarkannya kepada orang-orang awam secara sembunyi-sembunyi. Strategi ini mereka lancarkan mulai dari Maroko hingga ke India. Akhirnya pada tahun 909 M, mereka mulai menetapkan berdakwah secara terang-terangan dan mulai berpengaruh di dunia Islam.

Pada tahun 909 M, di Tunisia, seseorang yang bernama Said bin Husein yang memiliki laqob Ubaidullah al-Mahdi Billah memproklamirkan diri sebagai khalifah Daulah Fatimiyah. Ubaidullah al-Mahdi menuntut kepada pengikut sekte Syiah Ismailiyah untuk menaatinya karena dia mengklaim dirinya sebagai imam dalam sekte Syiah Ismailiyah yang memiliki hubungan darah dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamdari jalur putri beliau Fatimah binti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam(dari sini terambil nama Fatimiyah). Para ulama telah membantah klaim nasab Ubaidullah al-Mahdi ini, oleh karena itu mereka menyebut Daulah ini dengan Daulah Ubaidiyah bukan Daulah Fatimiyah.

Untuk memperkuat kerajaan barunya, Ubaidullah al-Mahdi mengakomodir orang-orang Barbar di Afrika Utara sebagai kekuatan militer. Ia berhasil mempengaruhi orang-orang Barbar yang sudah kecewa dengan Dinasti Aghlabiyah di Afrika Utara dan menjanjikan posisi yang baik dan balasan yang memuaskan apabila mereka bergabung dengan Daulah Fatimiyah.

Usaha Ubaidullah al-Mahdi tidak sia-sia, orang-orang Barbar dengan berbagai sukunya berhasil diajak bergabung dan membantunya menaklukkan Daulah Aghlabiyah. Di Kota Raqqadah bekas istana Aghlabiyah pemerintahan Ubaidullah al-Mahdi dimulai. Dari sini kekuasaanya mulai meluas dari Afrika Utara, Maroko, Aljazair, Tunisia, Libia, Sisilia, dan Malta berhasil jatuh dan tunduk di bawah kekuasaannya. Keberhasilan Daulah Fatimiyah ini tentu saja menjadi teror bagi mayoritas umat Islam, terlebih khusus kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad.

Daulah Fatimiyah Menguasai Mesir

Pada tahun 969 M, Fatimiyah sudah memiliki kekuatan yang cukup besar, inilah saatnya menakulkkan wilayah yang besar, strategsi, dan memiliki pengaruh dan prestise, yaitu Mesir. Saat itu, Mesir dipimpin oleh Dinasti Iksidiyah yang dipercayakan penguasa Abbasiyah untuk bertanggung jawab di Mesir dan wilayah kota suci: Mekah, Madinah, dan Jerusalem. Daulah Fatimiyah berhasil menaklukkan Dinasti Iksidiyah sehingga secara otomatis tiga kota suci tersebut jatuh ke wilayah kekuasaan Fatimiyah. Setelah itu, mereka menjadikan Kairo sebagai ibu kota kekhalifahan.

Di akhir tahun 900-an M, daulah ini menjadi sebuah kekuatan adidaya, mereka menguasai sebagian besar dunia Islam, kekuasaan mereka terbentang dari Maroko hingga Suriah. Saat inilah para orientalis menyebut bahwa Daulah Fatimiyah mencapai masa keemasan dan mempraktikkan nilai-nilai toleran antara umat beragama. Namun kenyataannya, teloransi di masa Daulah Fatimiyah hanyalah mitos belaka, bahkan nilai-nilai toleran itu semakin buruk saat mereka berhasil menaklukkan Mesir. Para orientalis menyebut masa itu sebagai masa toleransi semata-mata karena saat itu populasi Yahudi dan Kristen semakin besar di dunia Islam.

Mengapa kita katakan hal itu hanya mitos? Berikut ini data-data sikap intoleran yang dipraktikkan Daulah Fatimiyah, sekaligus membantah klaim para orientalis tersebut.

Orientalis berpendapat bahwa pada masa Fatimimiyah pertumbuhan populasi Yahudi dan Kristen cukup besar dan orang-orang Fatimiyah secara terbuka bekerja sama dengan orang-orang ahlul kitab ini. Kita katakan, hal ini bukanlah hal yang baru dalam perjalanan sejarah umat Islam. Dinasti Umayyah dan Abbasiyah juga terbuka dan profesional bekerja sama dengan orang-orang non-Islam. Bahkan pada masa Abbasiyah hal itu sangat tampak kentara. Pemerintah Abbasiyah terbuka mengundang orang-orang ahlul kitab, bahkan orang-orang pagan (penyembah berhala) Yunani untuk memasuki Baghdad. Mereka dimanfaatkan oleh Abbasiyah untuk membangun kejayaan umat Islam.

Pada masa kekuasaan Fatimiyah, orang-orang Sunni dilarang memasuki Kota Jerusalem

Dalam perspektif Islam, justru Fatimiyah tidak menerapkan sistem yang longgar bagi orang-orang Sunni atau Ahlussunnah. Sunni dipaksa menyebutkan nama-nama kahlifah Fatimiyah dalam setiap khutbah Jumat, orang-orang Syiah Ismailiyah diperbolehkan bahkan dimotivasi untuk berkunjung ke Jerusalem, sedangkan orang-orang Sunni dilarang melakukan hal itu (Jerusalem: The Biography, Hal. 204).

Fatimiyah juga memiliki hubungan yang dekat dengan orang-orang Qaramitah di Semenanjung Arab. Duet ini bertanggung jawab atas tindakan-tindakan ofensif terhadap kaum muslimin di wilayah tersebut. Tahun 906 M, mereka menyerang kafilah jamaah haji yang hendak menuju Mekah yang mengakibatkan 20.000 jamaah terbunuh. Tahun 928 M, Qaramitah dipimpin oleh Abu Thahir menyerang Mekah, membantai penduduknya, dan mencongkel Hajar Aswad. 22 tahun kemudian baru mereka kembalikan Hajar Aswad ke Mekah setelah diberikan tebusan (A History of Medieval Islam, Hal: 130). Imam Ibnu Katsir “Dia (Abu Thahir) telah melakukan ilhad (kekufuran) di Masjidil Haram, yang tidak pernah dilakukan oleh orang sebelumnya dan orang sesudahnya.” (al-Bidayah wan Nihayah, 11:190-192).

Secara keseluruhan, masa pemerintahan Fatimiyah adalah penderitaan bagi Ahlussunnah, mereka melakukan penganiayaan dan memaksa Ahlussunah untuk menganut keyakinan kufur Ismailiyah. Ribuan Ahlussunnah dibunuh lantaran mereka menolak untuk menghina para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (The History of Islam, Hal: 269). Puncaknya terjadi pada masa khalifah Fatimiyah, al-Hakim bi Amrillah (996-1021 M), ia menyiksa orang-orang selain dari Syiah Ismailiyah termasuk juga orang-orang Yahudi dan Kristen. Semua gereja dan sinagog di Jerusalem dihancurkan atau minimal ditutup, sampai-sampai orang-orang Yahudi dan Kristen harus berpura-pura menganut agama Syiah Ismailiyah (Jerusalem: The Biography, Hal: 208). Ia memerintahkan penghancuran makam suci bagi umat Kristen (History of The Arabs, Hal: 792). Buah dari perbuatannya ini adalah pecahnya Perang Salib. Sehingga kita bisa menggarisbawahi bahwa Perang Salib bukanlah dipicu oleh Islam dan umat Islam, hal itu disebabkan oleh tingkah laku al-Hakim bi Amrillah dan doktrin Syiah Ismailiyahnya, terlebih dia juga termasuk imam dalam ajaran Syiah Ismailiyah bahkan dia mengklaim bahwa dirinya adalah penjelmaan Allah (History of The Arabs, Hal: 792).

Keruntuhan Kerajaan

Kemunduran Daulah Fatimiyah dimulai ketika Khalifah al-Zahir wafat dan digantikan oleh anaknya yang masih berumur sebelas tahun, Ma’ad al-Muntashir. Ia berkuasa hampir selama enam puluh tahun, dari 1035-1094 M. Pada masa pemerintahannya wilayah Fatimiyah yang luas menyusut sedikit demi sedikit hingga lebih kecil dari wilayah Mesir sekarang. Pada masa itu kekacauan terjadi dimana-mana; kericuhan dan pertikaian terjadi di antara orang Turki, Barbar, dan Sudan, kekuasaan negara lumpuh, kelaparan yang terjadi selama tujuh tahun pun melumpuhkan perekonomian negara. Kemudian masa-masa setelahnya terus digantikan oleh khalifah-khalifah belia yang bahkan belum menginjak usia akil balig.

Wilayah kekuasan Daulah Fatimiyah di masa keemasannya

Pembunuhan dan perebutan tahta mulai terjadi, perekonomian kacau, pajak naik untuk mencukupi kebutuhan kerajaan, dan ketidakstabilan terjadi dalam banyak hal. Keadaan semakin parah dan rumit dengan datangnya Pasukan Salib dan serangan balasan dari Almaric, Raja Jerusalem. Keadaan menyedihkan itu diakhiri oleh Shalahuddin al-Ayyubi pada 1171 M, ia meruntuhkan Daulah Fatimiyah dan menurunkan khalifahnya yang terakhir dari tahtanya.

Diantara peninggalan Daulah Fatimiyah yang paling berharga adalah Universitas al-Azhar yang semula mencetak sarjana-sarjana Syiah kemudian diganti oleh Shalahuddin menjadi universitas yang mencetak tokoh-tokoh Sunni.

Sumber:
- History of The Arabs
- lostislamichistory.com
- islamstory.com
 
KEMBALI KEATAS | Home | Redaksi | Pasang Iklan | Kirim Artikel | Daftar ISI
Copyright © 2014 HadistWEB - All Rights Reserved