Artikel Terbaru :
Tampilkan postingan dengan label Tazkiyah Nufus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tazkiyah Nufus. Tampilkan semua postingan

Mempersiapkan Diri Menyambut Ramadhan

Oleh: Muhammad Yusran Hadi, Lc, MA

TAK teras akita memasuki bulan Sya’ban.Sebentar lagi kita akan kedatangan tamu agung yaitu bulan Ramadhan. Setelah sekian lama berpisah, kini Ramadhan kembali akan hadir di tengah-tengah kita. Bagi seorang muslim, kedatangan Ramadhan tentu akan disambut dengan rasa gembira dan penuh syukur, karena Ramadhan merupakan bulan maghfirah, rahmat,menuai pahaladan sarana menjadi orang yang muttaqin.

Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita melakukan persiapan diri untuk menyambut kedatangan bulan Ramadhan, agar Ramadhan kali ini benar-benar memiliki nilai yang tinggi dan dapat mengantarkan kita menjadi orang yang bertaqwa.

Namun, bagaimana cara kita menyambut Ramadhansesuai dengan tuntunan syariat? Apa yang mesti kita persiapkan? Tulisan ini mencoba untuk menjawab pertanyaan tersebut. Menurut penulis, banyak amalanyang perlu dilakukan dalam rangka mempersiapkan diri menyambut kedatangan bulan Ramadhan, di antaranya yaitu:

Pertama, berdoa kepada Allah, sebagaimana yang dicontohkan para ulamasalafusshalih. Mereka berdoa kepada Allah Swt agar dipertemukan dengan bulan Ramadhan sejak enam bulan sebelumnya, dan selama enam bulan berikutnya mereka berdoa agar puasanya diterima Allah Swt. Berjumpa dengan bulan ini merupakan nikmat yang besar bagi orang-orang yang dianugerahi taufik oleh Allah Swt.

Mu’alla bin al-Fadhl berkata, “Dulunya para salaf berdoa kepada Allah Ta’ala (selama) enam bulan agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan, kemudian mereka berdoa kepada-Nya (selama) enam bulan berikutnya agar Dia menerima (amal-amal shaleh) yang mereka kerjakan”(Lathaif Al-Ma’aarif: 174)

Diantara doa mereka itu adalah: ”Ya Allah, serahkanlah aku kepada Ramadhan dan serahkan Ramadhan kepadaku dan Engkau menerimanya kepadaku dengan kerelaan”. Dan doa yang populer: ”Ya Allah, berkatilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, serta sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan”.

Kedua, menuntaskan puasa tahun lalu. Sudah seharusnya kita mengqadhapuasa sesegera mungkin sebelum datang Ramadhan berikutnya. Namun kalau seseorang mempunyai kesibukan atau halangan tertentu untuk mengqadhanya seperti seorang ibu yang hamil dan yang sibuk menyusui anaknya, maka hendaklah ia menuntaskan hutang puasa tahun lalu pada bulan Sya’ban. Sebagaimana Aisyah r.a tidak bisa mengqadha puasanya kecuali pada bulan Sya’ban. Menunda qadha puasa dengan sengaja tanpa ada uzur syar’i sampai masuk Ramadhan berikutnya adalah dosa, maka kewajibannya adalah tetap mengqadha, dan ditambah kewajiban membayarfidyah menurut sebagian ulama.

Ketiga, persiapan keilmuan. Hanya dengan ilmu kita dapat mengetahui cara beribadah dengan benar yaitu sesuai dengan sunnah (petunjuk) Rasulullah saw.Mu’adz bin Jabal r.a berkata: ”Hendaklah kalian memperhatikan ilmu, karena mencari ilmu karena Allah adalah ibadah”. Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah mengomentari atsar diatas, ”Orang yang berilmu mengetahui tingkatan-tingkatan ibadah, perusak-perusak amal, dan hal-hal yang menyempurnakannya dan apa-apa yang menguranginya”.

Oleh karena itu, suatu ibadah tanpa dilandasi ilmu, maka kerusakannya lebih banyak daripada kebaikannya. Ibadah tanpa mengikuti petunjuk Rasulullah saw disebut bid’ah, hukumnya haram dan tidak akan diterima Allah Swt. Rasulullah saw bersabda, ”Barangsiapa yang mengada-adakan urusan baru dalam urusan (agama) kami ini, yang bukan berasal daripadanya, maka amalannya ditolak” (HR. Bukhari dan Miuslim). Dalam riwayat lain, Nabi saw bersabda: ”Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang bukan berasal dari petunjuk kami, maka amalannya ditolak”. (HR. Muslim)

Ibadah tanpa petunjuk Rasul saw tidak hanya ditolak, namun juga menuai murka Allah Swt. Rasul saw bersabda: “Sesungguhnya barangsiapa yang hidup setelahku maka dia akan melihat banyak perselisihan, maka wajib bagi kalian untuk mengikuti sunnahku dan sunnah para khulafaaur rasyidin yang mendapat petunjuk setelahku, berpegang teguhlah dengan sunnah-sunnah tersebut, dan gigitlah ia dengan geraham kalian. Dan hati-hatilah kalian terhadap perkara-perkara baru, karena semua perkara baru adalah bid’ah dansemua bid’ah adalah kesesatan”. (HR. Abu Daud dan At-Tirmizi)

Menuntut ilmu akidah dan ibadah hukumnya wajib. Suatu ibadah akan diterima oleh Allah Saw bila dikerjakan sesuai dengan ikhlas dan sesuai petunjuk Rasul saw. Maka, menjelang Ramadhan ini sudah sepatutnya kita untuk mempersiapkan keilmuan kita dengan membaca kitab/buku mengenai fikih puasa dan ibadah lain yang berkaitan dengan Ramadhan seperti shalat tarawih, i’tikaf dan lainnya.

Kempat, persiapan jiwa dan mental. Persiapan ini penting dilakukan, agar jiwa kita siap untuk beribadah dengan full time dan optimal pada bulan Ramadhan. Caranya, dengan memperbanyak ibadah-ibadah di bulan sebelumnya (minimal di bulan Sya’ban) dengan puasa sunnat Senin dan Kamis, puasa hari ke 13, 14, dan 15 pertengahan bulan hijriah yang dikenal dengan puasa ayyamul bidh (hari-hari putih), dan puasa Nabi Daud yaitu sehari berpuasa dan sehari berbuka. Terlebih lagi pada bulan Sya’ban kita sangat dianjurkan memperbanyak puasa sunnat, sesuai dengan sunnah Rasulullah saw. Aisyah r.a berkata: “Aku belum pernah melihat Nabi saw berpuasa sebulan penuh kecuali bulan Ramadhan, dan aku belum pernahmelihat Nabi saw berpuasa (sunnat) sebanyak yang ia lakukan di bulan Sya’ban. (HR. Muslim).

ADAPUN pengkhususan ibadah seperti shalat malam atau puasa padanisfu(pertengahan) sya’ban dengan menyangka bahwa ia memiliki keutamaan, maka menurut para ulama besarperbuatan itu merupakan bid’ahyang dilarang dalam agama, karena tidak ada dalil shahih yang mensyariatkannya. Menurut para ulama besar, dalil yang dijadikan sandaran mengenai keutamaan nisfu sya’ban adalah hadits dhaif (lemah), bahkanmaudhu’ (palsu).Imam Ibnu Al-Jauzi memasukkan hadits-hadits mengenai keutamaan nishfu Sya’ban ke dalam kitabnya Al-Maudhu’at (hadits-hadits palsu).

Al-Mubarakfuri berkata, “Saya tidak mendapatkan hadits marfu’ yang shahihtentang puasa pada pertengahan bulan Sya’ban. Adapun hadits keutamaannisfu Sya’ban yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah saya telah mengetahui bahwa hadits ini adalah hadits sangat lemah” (Tuhfah Al-Ahwazi: 3/444).

Syaikh Shalih bin Fauzan berkata, “Adapun hadits-hadits yang terdapat dalam masalah ini (keutamaan nisfu Sya’ban), semuanya adalah hadits palsu sebagaimana dikemukakan oleh para ulama. Akan tetapi bagi orang yang memiliki kebiasaan berpuasa pada ayyamul bidh (tanggal 14, 15, 16), maka ia boleh melakukan puasa pada bulan Sya’ban seperti bulan-bulan lainnya tanpa mengkhususkan hari itu saja.”

Syaikh Sayyid Sabiq berkata, “Mengkhususkan puasa pada hari nisfu Sya’ban dengan menyangka bahwa hari-hari tersbut memiliki keutamaan dari pada hari lainnya, tidak memiliki dalil yang shahih” (Fiqh As-Sunnah: 1/416).

Termasuk persiapan jiwa dan mental yaitu dengan cara membiasakan diri melakukan shalat-shalat sunnat dan memperbanyak membaca Al-Quran sebelum kedatangan Ramadhan, agar kita terbiasa melakukannya sehingga memudahkan kita dalam melaksanakan ibadah-ibadah tersebut pada bulan Ramadhan nantinya.

Kelima, persiapanfisik yaitu menjaga kesehatan. Persiapan fisik agar tetap sehat dan kuat di bulan Ramadhan sangat penting. Kesehatan merupakan modal utama dalam beribadah. Bila kita sehat, maka kita dapat melakukan ibadah dengan baik dan optimal. Namun bila kita sakit, maka ibadah kitaterganggu. Rasul saw bersabda, “Pergunakanlah kesempatan yang lima sebelum datang yang lima; masa mudamu sebelum masa tuamu, masa sehatmu sebelum masa sakitmu, masa kayamu sebelum masa miskinmu, masa luangmu sebelum masa sibukmu, dan masa hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al-Hakim) Maka, untuk meyambut Ramadhan kita harus menjaga kesehatan dan stamina dengan cara menjagapola makan yang sehat dan bergizi, dan istirahat cukup.

Keenam, persiapan dana. Pada bulan Ramadhan ini setiap muslim dianjurkan memperbanyak amal shalih seperti infaq, shadaqah dan ifthar (memberi bukaan).Maka, sebaiknya dibuat sebuah agenda maliah (keuangan) yang mengalokasikan dana untuk shadaqah, infaq serta memberi ifhtarselama bulan Ramadhan. Moment Ramadhan merupakan moment yang paling tepat dan utama untuk menyalurkan ibadah maliah kita, karena mengikuti sunnah Rasul saw. Ibnu Abbas r.a berkata,”Nabi Saw adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan pada bulan Ramadhan.” (H.R Bukhari dan Muslim). Termasuk dalam persiapan maliah adalah mempersiapkan dana untuk berbuka puasa dan sahur. Begitu pula persiapan dana untuk keluarga selama i’tikaf, agar dapat beri’tikaf dengan baik tanpa memikirkan beban ekonomi untuk keluarga.

Ketujuh, menyelenggarakan tarhib Ramadhan. Di samping persiapan secara individual, kita juga hendaknya melakukan persiapan secara kolektif, di antaranya adalah melakukan tarhib Ramadhan. Tarhib Ramadhan adalah mengumpulkan kaum muslimin di masjid atau di tempat lain untuk diberi pengarahan seputar puasa Ramadhan, adab-adabnya, syarat dan rukunnya, hal-hal yang membatalkannya atau amal ibadah lainnya yang dapat kita lakukan secara maksimal di bulan Ramadhan. Hal ini sebagaimana yang dilakukan Rasulullah Saw ketika memasuki bulan Ramadhan, beliau memberikan penjelasan mengenai puasa dan keutamaan Ramadhan kepada para shahabat.

Rasul saw juga memberi kabar gembira akan kedatangan bulan Ramadhan dengan menjelaskan berbagai keutamaannya. Abu Hurairah r.a ia berkata,“Menjelang kedatangan bulan Ramadhan, Rasulullah saw bersabda, “Telah datang kepada kalian bulan yang diberkahi. Diwajibkan kepada kalianberpuasa padanya. Pada bulan tersebut pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, syaithan-syaithan dibelunggu. Padanya juga terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan, barangsiapa yang terhalang kebaikan pada malam itu, maka ia telah terhalang dari kebaikan tersebut.”(HR. Ahmad, An-Nasa’i dan Al-Baihaqi). Selain hadits ini, banyak hadits lain yang menjelaskan tentang keutamaan Ramadhan. Hal ini dilakukan oleh Rasulullah saw untuk memberi motivasi dan semangat kepada umat Islamdalam beribadah di bulan Ramadhan.

Akhirnya,marilah kita sambut bulan Ramadhan yang sudah di ambang pintu ini dengan gembira dan suka cita. Marilah kitamempersiapkan diri untuk beribadah dengan optimal pada Ramadhan ini. Kita berdoa dan berharap kepada Allah Swt agar ibadah kita diterima, tentu dengan syarat ikhlas dan sesuai Sunnah Rasul saw. Semoga kita dipertemukan dengan Ramadhan kali inidan dapat meraih berbagai keutamaannya.

Penulis adalah ketua Majelis Intelektual & Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Aceh & kandidat Doktor Ushul Fiqh, International Islamic University Malaysia (IIUM)

Mari Berislam secara Total

hadist.web.id
Sebagai seorang Muslim, mari kita bersama-sama bekerja dalam bingkai Islam yang suci menegakkan kalimatullah, mengaplikasikan sendi-sendi ruh islam dalam banyak aspek kehidupan manusia

أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ ادْخُلُواْ فِي السِّلْمِ كَآفَّةً وَلاَ تَتَّبِعُواْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ
“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaithan. Sesungguhnya syaithan itu musuh yang nyata bagi kalian.” (QS: al-Baqoroh: 208)

oleh: Ahmad Amrin Nafis

AYAT ini merupakan kewajiban bagi seorang Muslim harus dan tetap terus berproses untuk memasuki tangga kewajiban totalitas. Tunduk kepada Allah Ta’ala tanpa syarat. Ayat tersebut juga mengingatkan kita tentang syahadat dan maknanya. Syahadat yang bermakna: membenarkan didalam hati, mengucapkannya dengan lisan, dan beramal dengan amal perbuatan.

Syahadat yang minimal kita baca sembilan kali dalam sholat-sholat fardhu kita sehari semalam. Syahadat juga merupakan gerbang pertama menuju penghambaan diri kepada Allah secara keseluruhan,tanpa ada kata nanti,besok,ataupun tidak sempat.

Seseorang yang telah bersyahadat hendaknya harus siap dengan konsekwensi menjadikan Allah sebagai tujuan. Tidak ada sesuatu apapun yang lebih ditakuti,disembah,di ingat lebih banyak,di taati dan semacamnya kecuali hanya Allah semata. Serta, senantiasa menjadikan Muhammad Shallahu ‘alaihi wa Sallam sebagai panutan yang ma’shum,Qudwah, dan standar kekuatan untuk beriman kepada Allah dan hari akhir.

Makna ayat

Secara fitrahnya, orang yang beriman kepada Allah hendaknya selalu berproses untuk selalu lebih baik dari hari-hari yang telah di laluinya. Menjadi baik secara dzohir ataupun batin. Jika sebelumnya mutu ibadahnya masih banyak kekurangan, maka hari berikutnya harus ditambal kekurangannya. Dan inilah sifat dari seorang Muslim, terus dan terus berproses dalam kebaikan-kebaikan yang Allah perintahkan. Tidak stagnan, ketika telah selesai dengan satu perintah Allah satunya maka hendaknya segera berpindah,tidak lekas berpuas diri,totalitas dan tidak setengah-setengah begitu seterusnya.

Al-Imam Nashiruddin Abi Sa’id Abdullah bin Umar al-Baidhowi di dalam tafsir beliau mengatakan: bahwa masuk kedalam Islam secara keseluruhan adalah menaati Allah ta’ala dzohir dan batin. Kebalikan dari apa yang dilakukan oleh orang-orang munafiq yang dzohirnya beriman tetapi hatinya tidak. Masuk kedalam Islam secara keseluruhan juga berarti tidak setengah-setengah dan tidak mencampur adukkan dengan sesuatu apapun,sedikit ataupun banyak. Beriman kepada Allah,para nabinya dan kitab-kitabnya. Siap menjadikan Islam standar dari cabang-cabang atas segala sesuatu secara hukum keseluruhan. (Anwaarul tanziil wa asroorut ta’wiil.Tafsir al-baidhowi, halaman 114 Daar Kutub al-‘ilmiyyah, 2011)

Seorang Muslim hendaknya memahami dan berkeyakinan bahwa Islam merupakan agama yang sempurna. Islam yang merupakan ruh dan hukum-hukum dari Allah ta’ala,agama para Nabi-Nabi terdahulu, jalan yang lurus dan keselamatan dunia akhirat.

Dr. Fathi Yakan, pernah berpesan kepada kita bahwa seyogyanya orang yang beriman hendaknya menjadikan Islam sebagai standar kekuatan dan perjuangan. Karena islam merupakan agama yang sempurna, agama yang Allah ridhai,dan agama yang fithroh bagi segenap manusia.

Sebagai ajaran yang universal, Islam datang untuk menyelamatkan seluruh manusia,melindungi dan menjaga fithroh manusia karena sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan manusia, bahkan bukan hanya hal itu islam adalah agama yang lurus lagi selamat.

Stop upaya mengkebiri Islam


Tanpa menafikan fenomena yang menggejala sekarang bahwa di negri tercinta kita ini sedang ada upaya menuju pemberangusan islam dalam aspek-aspek kebutuhan manusia.

Bahwa opini yang mulai digalakkan Islam hanyalah agama ibadah. Islam hanya berada di masjid. Islam tidak ikut campur tangan masalah: budaya,sosial,ekonomi,politik,ilmu pengetahuan dan sejenisnya serta statemen-statemen lainnya. Hal ini tentu kita ketahui adalah salah besar.

Para ulama sudah mendeskrepsikan ketika membaca ayat di atas, salah satunya Hasan al-Banna bahwa cakupan kesempurnaan Islam meliputi tiga aspek:

Pertama, kesempurnaan metode (Syumuliyyah al-minhajj)

Metode yang Rasul ajarkan atas perintah Allah tidak ada cacat atau cela sedikitpun daripadanya. Yang ada hanyalah kesempurnaan karena perintah dari sang Maha Sempurna yakni Allah.

Kedua, kesempurnaan di setiap lingkup waktu (Syumuliyyah az-Zamaan)

Sesungguhnya apa yang Rasulullah Shallahu ‘alaihi wasallam ajarkan tidak akan pernah lekang oleh waktu meskipun zaman terus berputar dan berganti.

Ketiga, kesempurnaan di semua tempat (Syumuliyyah al-Makaan)

Bahwa kita sebagai seorang yang beriman kita mengetahui bahwa bumi Allah luas adanya. Dan datangnya Islam sebagai penyelamat umat manusia dimanapun ia berada, di bumi bagian barat atau timur, utara bahkan selatan sekalipun.

Islam tidak terlindas ruang dan tempat,sempit atau luas,panjang atapun pendek, di bumi kulit putih ataupun hitam.

Fenomena yang ada juga adalah beberapa indiviu-individu, yayasan-yayasan, pergerakan-pergerakan,ormas-ormas,partai-partai yang ada , melabeli diri mereka dengan islam ini. Tentu yang terjadi adalah keterbatasan mereka sebagai manusia. Hingga timbulnya kekurangan-kekurangan dalam masalah ijtihadi dan adanya aib-aib. Sebagai Muslim, kita dianjurkan ber-husnudzhon terhadap mereka. Menasihati dengan nasihat yang baik jika memang berkompeten untuk memberi nasihat, memberikan haknya sebagai orang beriman, sebagaimana yang Allah dan Rasul jelaskan dan ajarkan kepada kita.

Bukanlah sikap dan sifat seorang Muslim yang mencelanya, memusuhi seperti musuh-musuh Allah karena aib-aibnya.

Jika berbicara mengenai aib,di dunia ini tidak ada yang tidak mempunyai aib hatta para Nabi dan Rasul sekalipun yang ma’shum.

Apatah lagi dengan manusia akhir zaman yang meski mereka berjuang untuk islam yang sempurna inipun, diri mereka tidak akan pernah sempurna dan tidak dapat menghindari aib yang harus ada pada diri manusia.

Penutup

Jadi sebagai seorang Muslim, mari kita bersama-sama bekerja dalam bingkai Islam yang suci menegakkan kalimatullah, mengaplikasikan sendi-sendi ruh islam dalam banyak aspek kehidupan manusia.

Tentu saja ini adalah kerja bersama dalam artian ber-jamaah, apapun itu semoga senantiasa Allah mudahkan dalam menggapai janjinya. Aamin ya Robbal ‘aalamiin.*/Penulis adalah mahasiswa Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam da Arab (LIPIA) Jakarta

Ciri-ciri Hati yang Unggul

hadist.web.id
PERNAKAH kita merasakan malas saat mengerjakan sesuatu padahalfasilitas yang kita miiki sudah lengkap dan apa yang sedang kitalakukan sebenarnya suatu hal yang sangat penting dan bermanfaat?

Pernahkah kita merasakan futur (semangat menurun) saat seseorang mengabaikan kita, tidak memuji serta tidak menghargai hasil pekerjaan baik kita?

Di sisi lain, pernahkah kita melihat orang yang kehidupannya sederhana namun selalu nampak ceria, seolah-olah tidak pernah ada masalah yang melintas dalam hidupnya? Fasilitas belajar ataupun kerjanya yang dimiliki tidak begitu memadai tapi selalu giat dan berhasil?

Ia mendapat banyak teguran dan sindiran dari berbagai pihak namun dia tetap tegar. Semangat dan keikhlasaannya tidak sedikitpun tergoyahkan? Pernahkah?

Ketahulillah bahwa yang membedakan itu semuanya adalah hati. Antara hati yang sakit dan hati yang unggul. Hati yang sakit selalu mengharapkan pemuasan segera, kekayaan yang segera dan pujian dari orang lain. Maka saat dia tidak memperoleh apa yang diharapkanakan mengalami depresi dan putus asa. Sedangkan hati yang unggul adalah yang selalu menggantungkan diripada Dzat Yang maha kaya, Dzat Yang dapat menentramkan hati, Dzat yang memberikan hikmah di balik setiap ujian dan cobannya.

Semua pasti mendambakan kebahagiaan dan kedamaian dalam hidup,namun perlu diketahui bahwa rasa bahagia dan damai itu letaknya di hati.

Maka setiap yang menginginkannya harus memperhatikan bagaimana memiliki hati yang unggul.

Berikut ini adalah beberapa ciri-ciri hati yang unggul

Pertama adalah hatinya merdeka. Artinya hatinya bebas dari kekangan hawa nafsu dan syahwat. Bisyr bin Harist pernah mengatakan: ”Seorang hamba tidak akan mampu merasakan nikmatnya ibadah sebelum ia mampu membuat tembok penghalang dari besi yang memisahkan antara dirinya dan syahwatnya.” (Hilyatul Aulia, jil. VIII, hal. 345)

Kedua, hatinya memiliki rasa “Yaqzhah”. Yaitu berupa kecemasan hati tatkala memperhatikan tidurnya orang-orang lalai. Rasa yaqzhah ini memiliki pengaruh besar dalam kehidupan seseorang, di antaranya:

a. Waspada terhadap melimpahnya kenikmatan yang dapat menjerumuskannya kedalam kenistaan.

b. Selalu menghitung keburukannya, dan dikaitkan segala bentuk kerugian yang menimpanya degan dosa yang dilakukan.

Sebagaimana firman Allah : قَالَ أَوَلَوْ جِئْتُكَ بِشَيْءٍ مُّبِينٍ

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu Maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri.” (QS. Asy-Syura [26]: 30)

Rasulullah menafsirkan ayat di atas dengan sabdanya :

بنذب لإ نيع لو قرع جلتحإ ام

“Tidaklah urat dan mata itu gemeter melainkan kerena sebuah dosa.” (HR. Thabrani)


c. Mewaspadai setiap kebaikan dan ketaatan yang melahirkan kebanggaan dan kesombongan.

Imam as Syafi’I memberikan arahaan agar terhindar dari ujub dalam ketaatan, “Bila Anda khawatir muncul penyakit ujub atas amalan Anda, maka ingatlah keridhaan dari pihak yang hendak Anda cari, nikmat apakah yang hendak Anda inginkan? Siksaan apa yang Anda takuti. Barangsiapa yang berfikir ke arah situ maka dia akan menganggap kecil amalannya.” (dalam kitabSiyarul ‘Alamin Nubala’, jil. X,hal. 111)

d. Akan timbul rasa hina dan bersalah saat melakukan dosa.Orang yang melakukan dosa sedangkan dia biasa-biasa saja maka ini pertanda hatinya sedang sakit. Jangan-jangan Allah sudah mengunci hatinya.

e. Mengukur keuntungan dan kerugiaan dengan ukuran akhirat. Sebagaimana Rasulullah pernah menyembelih seekor kambing lalu disedekahkan dan yang tersisa hanya pahanya saja, hingga ‘Aisyah berkata, “Hanya paha saja yang tersisa?” Rasulullah menjawab sebaliknya dengan timbangan akhirat, “Semuanya masih tersisa kecuali pahanya saja.”

Yang ketiga, Hatinya selalu memusuhi kelalaian.

Ada beberapa ilustrasi yang mewanti-wanti kita terhadap kelalaian dan panjangnya angan-angan. Sebagaiamana hal tersebut digambarkan oleh para ulama, di antaranya :

a. Bisyr bin Harist menceritakan tentang seekor semut yang sibuk mengumpulkan biji-bijian di musim panas dengan angan-angan agar dapat dimakan di musim dingin, tiba-tiba seeokor burung datang mematuknya dan biji tersebut. ( Lihat: Bisyr bin Harist hal. 65)

b. Ibnu Jauzi, “Dunia adalah perangkap, sedangkan manusia adalah burungnya. Burung-burung itu menginginkan biji (yang ada dalam perangkap), tapi lupa akan jerat perangkap.” (Dalam Shaidul Khathir, hal. 373)

c. Hasan Al-Bashri, “Wahai anak Adam, pisau tengah diasah, perapian tengah dinyalakan, sedangkan domba itu tengah menikamati makanannya.” (Dalam Siyaru ‘alamin Nubala’, jil. IV, hal.586)

Maka dari itu hati yang unggul selalu waspada dan tidak terlena dengan kenikmatan yang sesaat dan menipu serta angan-angan dunia yang melenakan, menipu, dan menjerat, sehingga membuat dia lalai dari kehidupan yang abadi.

Keempat, hati yang senantiasa ingin membalas.

Maksudnya adalah membalas kesalahan dengan kebaikan.Kerena kebaikan akan menghapus kesalahan, sebagaimana firman Allah;

وَأَقِمِ الصَّلاَةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفاً مِّنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّـيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ

“Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam.Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itumenghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk.” (QS.Hud [14]: 114)

Dalam hadis Rasulullah bersabda

اهحمت ةنسحلا ةئيسلا عبتاو

“Hendaklah ia mengiringi keburukan dengan kebaikan, niscayakeburukan itu akan menghapus keeburukan.” (HR. Ahmad)

Sesungguhnya balasan kebaikan adalah kebaikan yang dating setelahnya, sedangkan balasan keburukan adalah keburukan yang datang setelahnya, sebagaimana firman Allah.

Dengan kata lain, barangsiapa yang melakukan ketaatan dan telah paripurna, maka tanda-tanda diterimanya ketaatan tersebut adalah diikuti dengan ketaatan yang lain. Sedangkan tanda tidak diterimanya adalah diikuti dengan kemaksiatan setelahnya. Na’uzdubillah.

Umar r.a suatu ketika pernah disibukkan dengan kebun senilai 200.000 dirham sehingga beliau terlambat shalat Ashar-nya, maka beliau membalasnya dengan menyedekahkan kebun tersebut.

Hal yang senada juga pernah dilakukan oleh Thalhah, dia menyedekahkan kebunnya sebagai kafarah (pengganti) karena ketika shalat, hatinya pernah tersibukkan dengan burung yang hinggap di kebunnya tersebut.

Kelima, hati yang tidak mengenal rasa malas

Orang yang malas sering menyepelekan sesuatu yang kecil,dengan kemalasannya ia selalu menunda-nunda sampai tidak sempat dilaksanakannya. Padahal hakekat daripada sebuah gunung adalah kumpulan kerikil-kerikil dan hakekat banjir besar adalah kumpulan dari sejumlah tetesan air.

Rasulullah telah memotifasi umatnya agar bersegera melakukan kebaikan,jangan menunda-nundanya walaupun waktu yang dimiliki sangatsempit.

اهسرغي ىتح موقي ل نأ عاطتسا نإف ةليسف مكدحأ دي يفو ةعاسلا ةماق نإاهسرغيلف

“Bila kiamat terjadi sedang di tangan salah seorang di antara kalian memegang bibit, maka bila ia mampu untuk tidak bangkit hingga menanamnya, maka hendaklah ia menanamnya.” (HR.Bukhrari)

Maka hati yang memiliki ciri-ciri sebagaimana tertera di atas lah yang akan selalu unggul, tidak pernah depresi, tidak mengenal kata lelah dan menyerah, tidak menggoyahkan sedikitpun tekadnya dengan komentar-komentar orang lain. Karena yang diharapkankan bukan wajah manusia, tapi keridhaan dari Rabb Yang menciptakan manusia.

Namun untuk memperolehnya tidak hanya dengan duduk santai menunggu mu’jizat dankaramah yang tiba-tiba muncul, mustahil bisa. Tapi butuh usaha semaksimal mungkin untuk dapat memilikinya.*/Nashihul Umam

Sedekah Berbalas Surga

Aktivitas sedekah atau shodaqoh adalah amalan yang mulia, seseorang yang melakukannya akan mendapatkan pahala yang besar di sisi Allah. Namun akhir-akhir ini, banyak orang lebih menekankan berbuat amalan berderma ini dengan iming-iming balasan dunia yaitu menjadi kaya raya, bisnis lancar, dsb. Padahal tidak selayaknya amalan akhirat kita niatkan untuk mencari dunia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بشر هذه الأمة بالتيسير والسناء والرفعة بالدين والتمكين في البلاد والنصر فمن عمل منهم بعمل الآخرة للدنيا فليس له في الآخرة من نصيب

“Umat ini diberi kabar gembira dengan kemudahan, kedudukan dan kemulian dengan agama dan kekuatan di muka bumi, juga akan diberi pertolongan. Barangsiapa yang melakukan amalan akhirat untuk mencari dunia, maka dia tidak akan memperoleh satu bagian pun di akhirat.” (HR. Baihaqi)

Pada kesempatan kali ini, akan kami ketengahkan sebuah kisah dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bagaimana motivasi mereka dalam membelanjakan harta mereka di jalan Allah. Kisah yang patut kita jadikan teladan tersebut adalah kisah sahabat Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu.

Utsman bin Affan adalah seorang saudagar yang kaya raya dan seorang khalifah, amirul mukminin, bersamaan dengan itu beliau juga seorang yang dermawan dan terbiasa hidup sederhana. Yunus bin Ubaid mengisahkan bahwa al-Hasan al-Bashri pernah ditanya tentang para sahabat yang tidur qailulah (istirahat di pertengahan siang) di dalam masjid. al-Hasan menjawab, “Aku melihat Utsman bin Affan tidur qailulah di Masjid, padahal saat itu dia sudah menjadi Khalifah. Setelah bangkit, bekas kerikil terlihat menempel di pinggulnya. Kami pun berkata, Lihatlah, dia adalah Amirul Mukminin; lihatlah, dia adalah Amirul Mukminin.” (HR. Ahmad).

Adapun kisah tentang kedermawanannya dan berharap pahala akhirat dari amalan tersebut adalah sbb:

Menghibahkan Utang Seseorang karena Keshalehannya

Diriwayatkan dari Ibnu Jarir bahwa Thalhah datang menemui Utsman bin Affan di luar masjid dan berkata kepada beliau, “Uang 50.000 yang dulu aku pinjam sekarang sudah ada, kirimlah utusanmu untuk datang mengambilnya.” Utsman menjawab, “Uang tersebut sudah kami hibahkan untukmu karena kepahlawananmu.” (al-Bidayah wa an-Nihayah)

Membeli Sumur Untuk Kepentingan Kaum Muslimin

Tatkala rombongan kaum Muhajirin sampai di Madinah, mereka sangat membutuhkan air. Di sana terdapat mata air yang disebut sumur rumah milik seorang laki-laki dari bani Ghifar. Laki-laki itu biasa menjual satu qirbah (kantong dari kulit) air dengan satu mud makanan. Melihat hal ini, Rasulullah bertanya kepadanya, “Sudikah kamu menjualnya dengan ganti satu mata air di surga?” Laki-laki itu menjawab, “Wahai Rasulullah, aku tidak punya apa-apa lagi selain sumber air ini. Dan aku tidak bisa menjualnya memenuhi permintaan Anda.”

Pembicaraan tersebut didengar Utsman bin Affan. Tidak lama kemudian, ia membeli sumur tersebut dengan harga 35.000 dirham. Selanjutnya, dia menemui Nabi dan bertanya, “Akankah aku mendapatkan mata air di surga seperti yang Anda janjikan kepada laki-laki dari bani Ghifar tadi?” Beliau menjawab, “Tentu” Utsman pun berkata, “Kalau begitu, biarlah aku yang membelinya, dan aku mewakafkan untuk kaum muslimin.” (Siyar A’lamin Nubala, 2/569).

Utsman bin Affan benar-benar mengharapkan pahala akhirat dari pemberian yang ia lakukan.

Membebaskan Hamba Sahaya


Dari Abu Tsaur al-Fahmi, pada suatu hari Tsaur pernah menemui Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu. Perhatikanlah apa yang dikatakan Utsman berikut ini, beliau tidak pernah berharap dunia dalam amalan akhiratnya, dalam derma, dan pemberiannya. Utsman berkata, “Aku mengharapkan Rabbku; (1) aku adalah orang keempat dari empat orang pertama yang masuk Islam, (2) aku tidak pernah berdusta, (3) aku tidak mengharapkan dunia dan mendambakannya, (4) setelah berbaiat di hadapan Rasulullah, aku tidak pernah meletakkan tangan kananku di kemaluanku, sejak memeluk Islam, (5) aku tidak pernah melewatkan satu Jumat pun tanpa membebaskan seorang budak (hamba sahaya), (6) jika pada hari Jumat itu aku tidak mempunyai budak, maka aku memerdekakannya pada hari berikutnya, (7) aku tidak pernah berzina, baik itu pada masa jahiliyah maupun pada masa Islam, (8) aku ikut menyediakan perbekalan pasukan Islam dalam menghadapi Perang Tabuk, (9) Nabi menikahkanku dengan putrinya (Ruqayyah) hingga dia meninggal dunia, kemudian beliau menikahkanku dengan putri beliau yang lain (Ummu Kultsum) dan (10) Aku tidak pernah mencuri semasa Jahiliyah maupun semasa Islam.” (Tarikh ath-Thabari, 4/390).

Keutamaan-keutamaan Utsman di atas sekaligus sebagai jawaban bagi mereka yang berani merendahkan kehormatan dan mencela seorang sahabat yang dua kali dinikahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan putrinya ini.

Inilah beberapa contoh pemberian yang dilakukan oleh Utsman bin Affan yang kesemuanya dimotivasi oleh balasan surge, bukan balasan dunia. Hendaknya kita pun demikian, ketika bersedekah dan memberi kita hadirkan niat akhirat di hati kita, bukan niat mencari kekayaan materi dunia.

Memang terkadang motivasi dunia dibutuhkan untuk mengikis rasa pelit yang bersemayam di dalam hati atau untuk memotivasi orang-orang yang masih lemah keimanannya terhadap akhirat. Sebagaimana sebagian orang-orang yang didakwahkan Nabi Muhammad kepada Islam, mereka berharap harta dari keislaman tersebut, namun setelah keimanan mereka meningkat, mereka pun mencapai tingkatan yang lebih tinggi dari sebelumnya, yakni mengedepankan akhirat dari balasan dunia.

Tinggallah orang-orang yang bersedekah dengan motivasi dunia, apakah mereka ingin naik “kelas” atau tetap berada di level terbawah. Wallahu waliyu at-taufiq..

Disusun oleh Nurfitri Hadi

12 Bangsa Yang Dibinasakan Oleh Allah bag 2

Allah Kirim Hujan Batu pada Kaum Nabi Luth
Oleh: Shalih Hasyim

4. Kaum Nabi Luth

Umat Nabi Luth terkenal dengan perbuatan menyimpang, yaitu hanya mau menikah dengan pasangan sesama jenis (homoseksual dan lesbian). Kendati sudah diberi peringatan, mereka tak mau bertobat. Allah akhirnya memberikan azab kepada mereka berupa gempa bumi yang dahsyat disertai angin kencang dan hujan batu sehingga hancurlah rumah-rumah mereka. Dan, kaum Nabi Luth ini akhirnya tertimbun di bawah reruntuhan rumah mereka sendiri (QS: As Syu’araa : 160, An Naml: 54, Al Hijr: 67, Al Furqan: 38, Qaf: 12).

كَذَّبَتْ قَوْمُ لُوطٍ الْمُرْسَلِينَ

“Kaum Luth telah mendustakan rasul-rasul.” (QS. Asy Syu’ara (26) : 160).

وَلُوطاً إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ وَأَنتُمْ تُبْصِرُونَ

“Dan (ingatlah kisah) Luth, ketika Dia berkata kepada kaumnya: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan fahisyah itu sedang kamu memperlihatkan(nya)?” (QS: An Naml (27) : 54).

Perbuatan keji yang dimaksud menurut jumhur mufassirin adalah perbuatan keji ialah perbuatan zina, sedang menurut pendapat yang lain ialah segala perbuatan mesum seperti: zina, homoseksual dan yang sejenisnya.

Menurut pendapat Muslim dan mujahid yang dimaksud dengan perbuatan keji ialahmusahaqah (homoseksual antara wanita dengan wanita).

“Dan datanglah penduduk kota itu (ke rumah Luth) dengan gembira (karena) kedatangan tamu-tamu itu.” (QS. Al Hijr (15) : 67).

Riwayat Luth dalam surat Hijr ini, tidak diceritakan menurut urutan kejadian seperti pada surat Hud.

وَعَاداً وَثَمُودَ وَأَصْحَابَ الرَّسِّ وَقُرُوناً بَيْنَ ذَلِكَ كَثِيراً

“Dan (kami binasakan) kaum ‘Aad dan Tsamud dan penduduk Rass dan banyak (lagi) generasi-generasi di antara kaum- kaum tersebut.” (QS: Al Furqan (25) : 38).

Rass adalah telaga yang sudah kering airnya. kemudian dijadikan nama suatu kaum, Yaitu kaum Rass. mereka menyembah patung, lalu Allah mengutus Nabi Syuaib a.s. kepada mereka.

كَذَّبَتْ قَبْلَهُمْ قَوْمُ نُوحٍ وَأَصْحَابُ الرَّسِّ وَثَمُودُ

“Sebelum mereka telah mendustakan (pula) kaum Nuh dan penduduk Rass dan Tsamud.“(QS: Qaf (50) : 12)

5. Kaum Nabi Syuaib

Nabi Syuaib diutuskan kepada kaum Madyan. Kaum Madyan ini dihancurkan oleh Allah karena mereka suka melakukan penipuan dan kecurangan dalam perdagangan (takaran dan timbangan). Bila membeli, mereka minta dilebihkan dan bila menjual selalu mengurangi. Allah pun mengazab mereka berupa hawa panas yang teramat sangat. Kendati mereka berlindung di tempat yang teduh, hal itu tak mampu melepaskan rasa panas. Akhirnya, mereka binasa. (QS: Attaubah: 70, Alhijr: 78, Thaaha: 40, dan Alhajj: 44).

أَلَمْ يَأْتِهِمْ نَبَأُ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ قَوْمِ نُوحٍ وَعَادٍ وَثَمُودَ وَقَوْمِ إِبْرَاهِيمَ وِأَصْحَابِ مَدْيَنَ وَالْمُؤْتَفِكَاتِ أَتَتْهُمْ رُسُلُهُم بِالْبَيِّنَاتِ فَمَا كَانَ اللّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَـكِن كَانُواْ أَنفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

“Belumkah datang kepada mereka berita penting tentang orang-orang yang sebelum mereka, (yaitu) kaum Nuh, ‘Aad, Tsamud, kaum Ibrahim, penduduk Madyan dan negeri-negeri yang telah musnah? Telah datang kepada mereka Rasul-rasul dengan membawa keterangan yang nyata, maka Allah tidaklah sekali-kali Menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang Menganiaya diri mereka sendiri.” (QS: At Taubah (9) : 70).

‘Aad adalah kaum Nabi Hud, Tsamud ialah kaum Nabi Shaleh; penduduk Madyan ialah kaum Nabi Syu’aib, dan penduduk negeri yang telah musnah adalah kaum Nabi Luth a.s.

وَإِن كَانَ أَصْحَابُ الأَيْكَةِ لَظَالِمِينَ

“Dan Sesungguhnya adalah penduduk Aikah itu benar-benar kaum yang zalim.” (QS: Al Hijr (15) : 78).

Penduduk Aikah ini ialah kaum Syu’aib. Aikah ialah tempat yang berhutan di daerah Madyan.

إِذْ تَمْشِي أُخْتُكَ فَتَقُولُ هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى مَن يَكْفُلُهُ فَرَجَعْنَاكَ إِلَى أُمِّكَ كَيْ تَقَرَّ عَيْنُهَا وَلَا تَحْزَنَ وَقَتَلْتَ نَفْساً فَنَجَّيْنَاكَ مِنَ الْغَمِّ وَفَتَنَّاكَ فُتُوناً فَلَبِثْتَ سِنِينَ فِي أَهْلِ مَدْيَنَ ثُمَّ جِئْتَ عَلَى قَدَرٍ يَا مُوسَى

“(yaitu) ketika saudaramu yang perempuan berjalan, lalu ia berkata kepada (keluarga Fir’aun): “Bolehkah saya menunjukkan kepadamu orang yang akan memeliharanya?” Maka Kami mengembalikanmu kepada ibumu, agar senang hatinya dan tidak berduka cita. dan kamu pernah membunuh seorang manusia, lalu Kami selamatkan kamu dari kesusahan dan Kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan; Maka kamu tinggal beberapa tahun diantara penduduk Madyan, Kemudian kamu datang menurut waktu yang ditetapkan Hai Musa.” (QS. Thaha (20) : 40).

Sebagaimana yang dikisahkan dalam surat Al Qashash ayat 15. Nabi Musa a.s. datang ke negeri Madyan untuk melarikan diri, di sana Dia dikawinkan oleh Nabi Syu’aib a.s. dengan salah seorang puterinya dan menetap beberapa tahun lamanya. Maksudnya: Nabi Musa a.s. datang ke lembah Thuwa untuk menerima wahyu dan kerasulan.

وَأَصْحَابُ مَدْيَنَ وَكُذِّبَ مُوسَى فَأَمْلَيْتُ لِلْكَافِرِينَ ثُمَّ أَخَذْتُهُمْ فَكَيْفَ كَانَ نَكِيرِ

“Dan penduduk Madyan, dan telah didustakan Musa, lalu aku tangguhkan (azab-Ku) untuk orang-orang kafir, kemudian aku azab mereka, Maka (lihatlah) bagaimana besarnya kebencian-Ku (kepada mereka itu).” (QS: Al Hajj (22) : 44).

Selain kepada kaum Madyan, Nabi Syuaib juga diutus kepada penduduk Aikah. Mereka menyembah sebidang padang tanah yang pepohonannya sangat rimbun. Kaum ini menurut sebagian ahli tafsir disebut pula dengan penyembah hutan lebat (Aikah) (QS AlHijr: 78, Alsyu’araa: 176, Shaad: 13, Qaaf: 14).

“Dan Tsamud, kaum Luth dan penduduk Aikah. Mereka Itulah golongan-golongan yang bersekutu (menentang rasul-rasul).” (QS: Shad () : 13). Yang dimaksud dengan penduduk Aikah ialah penduduk Mad-yan Yaitu kaum Nabi Syu’aib a.s.

6. Firaun

Kaum Bani Israil sering ditindas oleh Firaun. Allah mengutus Nabi Musa dan Harun untuk memperingatkan Firaun akan azab Allah. Namun, Firaun malah mengaku sebagai tuhan. Ia akhirnya tewas di Laut Merah dan jasadnya berhasil diselamatkan. Hingga kini masih bisa disaksikan di museum mumi di Mesir (Albaqarah: 50 dan Yunus: 92).

“Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu, lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Fir’aun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan.” (QS: Al Baqarah (2) : 50).

Jasad Firu’aun

Sewaktu Nabi Musa a.s. membawa Bani Israil ke luar dari negeri Mesir menuju Palestina dan dikejar oleh Fir’aun, mereka harus melalui laut merah sebelah Utara. Maka Tuhan memerintahkan kepada Musa memukul laut itu dengan tongkatnya. perintah itu dilaksanakan oleh Musa hingga belahlah laut itu dan terbentanglah jalan raya ditengah-tengahnya dan Musa melalui jalan itu sampai selamatlah ia dan kaumnya ke seberang. sedang Fir’aun dan pengikut-pengikutnya melalui jalan itu pula, tetapi di waktu mereka berada di tengah-tengah laut, Kembalilah laut itu sebagaimana biasa, lalu tenggelamlah mereka.

“Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan Sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan kami. “

Yang diselamatkan Allah ialah tubuh kasarnya, menurut sejarah, setelah Fir’aun itu tenggelam mayatnya terdampar di pantai diketemukan oleh orang-orang Mesir lalu dibalsem, sehingga utuh sampai sekarang dan dapat dilihat di musium Mesir.*/bersambung

Penulis adalah kolumnis hidayatullah.com, tinggal di Kudus, Jawa Tengah

Rep: Administrator
Editor: Cholis Akbar

12 Bangsa yang Dibinasakan oleh Allah bag 1

Kaum Tsamud Dihancurkan dengan Guntur Tanpa Bekas
oleh: Shalih Hasyim

DALAM Al Quran, banyak sekali diceritakan kisah-kisah umat terdahulu yang telah dibinasakan oleh Allah karena mereka mengingkari utusan-Nya dan melakukan berbagai penyimpangan yang telah dilarang. Dosa yang mereka lakukan sudah sedemikian menggurita. Sekalipun bangsa-bangsa tersebut dalam kategori/deretan bangsa yang kuat dan maju (secara pisik), ditandai dengan income yang surplus, memiliki teknologi yang sangat canggih.

Sesungguhnya siksa di dunia ini tidak akan diturunkan oleh-Nya tanpa ada sebab-sebab yang mengundangnya/menyertainya. Dia tidak menurunkan siksa-Nya secara mendadak. Kecuali mayoritas penghuninya telah berbuat kerusakan. Sedangkan kritik sosial (amar bil ma’ruf dan nahi ‘anil munkar) diabaikan. Berarti penyakit sosial sudah menular. Sehingga yang ma’ruf (dikenali hati) menjadi munkar (diingkari hati). Yang mungkar menjadi makruf. Efeknya pihak yang berada level elitis (qiyadah) adalah preman yang didukung pemodal (jaladul fajir), orang yang shalih lemah dan terisolir dari akses ekonomi dan kekuasaan (‘ajzuts tsiqati).

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Kerusakan di darat dan di laut adalah akibat perilaku buruk manusia sendiri. Allah menimpakan adzab kepada manusia akibat dari sebagian keburukan yang mereka lakukan. Dengan adanya adzab itu semoga mereka mau bertaubat kepada Allah.” (QS: Ar Rum [30]: 41)

Merujuk Kitab Shofwatut Tafasir oleh Syeikh Ali Ash Shobuni “bima kasabat aidinnas” artinyabi sababi katsrati dzunubihim (disebabkan banyaknya dosa-dosa mereka).

Man saa-a khuluquhi ‘adzdzaba nafsahu (barangsiapa yang jelek akhlaknya menyakiti diri sendiri). Kata Ali bin Abi Thalib. Itulah bentuk keadilan Allah Subhanahu Wata’ala di dunia. Berbuat baik membuat hati pelakunya senang, berbuat dosa akan dirasakan oleh pelakunya adanya gugatan batin (nafsu lawwamah). Jika tidak diselesaikan akan menjadi penyakit jiwa.Bahkan dosa tersebut menyakiti pepohonan, hewan dan makhluk lainnya, hanya saja kita tidak memahami secara persis keluhan mereka. Besok pohon ghorqod akan berbicara untuk menunjukkan kepada kita tempat persembunyian Yahudi.

كَأَيِّن مِّن قَرْيَةٍ هِيَ أَشَدُّ قُوَّةً مِّن قَرْيَتِكَ الَّتِي أَخْرَجَتْكَ أَهْلَكْنَاهُمْ فَلَا نَاصِرَ لَهُمْ

“Dan betapa banyaknya negeri yang (penduduknya) lebih kuat dari pada (penduduk) negerimu (Muhammad) yang telah mengusirmu itu. Kami telah membinasakan mereka, maka tidak ada seorang penolongpun bagi mereka.” (QS: Muhammad [47]: 13).

Berikut ini adalah bukti-bukti dari campur tangan ghaib (Allah subhanahu wa ta’ala) atas kehancuran duabelas kaum.

1. Kaum Nabi Nuh 

Nabi Nuh berdakwah selama satu melenium lebih (950 tahun), namun yang beriman hanyalah sekitar 80 orang. Kaumnya mendustakan dan memperolok-olok Nabi Nuh.

قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوْتُ قَوْمِي لَيْلاً وَنَهَاراً
فَلَمْ يَزِدْهُمْ دُعَائِي إِلَّا فِرَاراً
وَإِنِّي كُلَّمَا دَعَوْتُهُمْ لِتَغْفِرَ لَهُمْ جَعَلُوا أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ وَاسْتَغْشَوْا ثِيَابَهُمْ وَأَصَرُّوا وَاسْتَكْبَرُوا اسْتِكْبَاراً

Nuh berkata: “Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang, Maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). dan Sesungguhnya Setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (kemukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat.” (QS. Nuh (71) : 5-7).

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحاً إِلَى قَوْمِهِ فَلَبِثَ فِيهِمْ أَلْفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمْسِينَ عَاماً فَأَخَذَهُمُ الطُّوفَانُ وَهُمْ ظَالِمُونَ

“Lalu, Allah mendatangkan banjir yang besar, kemudian menenggelamkan mereka yang ingkar, termasuk anak dan istri Nabi Nuh.” (QS: Al-Ankabut [29]: 14).

2. Kaum Nabi Hud

Nabi Hud diutus untuk kaum ‘Ad. Mereka mendustakan kenabian Nabi Hud. Allah lalu mendatangkan angin yang dahsyat disertai dengan bunyi guruh yang menggelegar hingga mereka tertimbun pasir dan akhirnya binasa (QS At Taubah: 70, Al Qamar: 18, Fushshilat: 13, An Najm: 50, Qaaf: 13).

أَلَمْ يَأْتِهِمْ نَبَأُ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ قَوْمِ نُوحٍ وَعَادٍ وَثَمُودَ وَقَوْمِ إِبْرَاهِيمَ وِأَصْحَابِ مَدْيَنَ وَالْمُؤْتَفِكَاتِ أَتَتْهُمْ رُسُلُهُم بِالْبَيِّنَاتِ فَمَا كَانَ اللّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَـكِن كَانُواْ أَنفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

“Belumkah datang kepada mereka berita penting tentang orang-orang yang sebelum mereka, (yaitu) kaum Nuh, ‘Aad, Tsamud, kaum Ibrahim, penduduk Madyan dan negeri-negeri yang telah musnah? Telah datang kepada mereka Rasul-rasul dengan membawa keterangan yang nyata, maka Allah tidaklah sekali-kali Menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang Menganiaya diri mereka sendiri.” (QS: At Taubah (9) : 70).

‘Aad adalah kaum Nabi Hud, Tsamud ialah kaum Nabi Shaleh; penduduk Madyan ialah kaum Nabi Syu’aib, dan penduduk negeri yang telah musnah adalah kaum Nabi Luth a.s.

كَذَّبَتْ عَادٌ فَكَيْفَ كَانَ عَذَابِي وَنُذُرِ

“Kaum ‘Aad pun mendustakan(pula). Maka alangkah dahsyatnya azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku.” (QS: Al Qamar (54) : 18).

فَإِنْ أَعْرَضُوا فَقُلْ أَنذَرْتُكُمْ صَاعِقَةً مِّثْلَ صَاعِقَةِ عَادٍ وَثَمُودَ

“Jika mereka berpaling maka katakanlah: “Aku telah memperingatkan kamu dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum ‘Aad dan Tsamud.” (QS: Fushilat [41]: 13).

وَأَنَّهُ أَهْلَكَ عَاداً الْأُولَى

“Dan bahwasanya Dia telah membinasakan kaum ‘Aad yang pertama, (QS: An Najm [53]: 50). “Dan kaum Aad, kaum Fir’aun dan kaum Luth.” (QS: Qaf [50]: 13).

3. Kaum Nabi Shalih

Nabi Shalih diutuskan Allah kepada kaum Tsamud. Nabi Saleh diberi sebuah mukjizat seekor unta betina yang keluar dari celah batu. Kemudian Nabi Shalih membuat jadual minum. Namun, kaumnya tidak mau antri dengan unta. Bahkan, mereka membunuh unta betina tersebut sehingga Allah menimpakan azab kepada mereka (QS ALhijr: 80, Huud: 68, Qaaf: 12).

وَلَقَدْ كَذَّبَ أَصْحَابُ الحِجْرِ الْمُرْسَلِينَ

“Dan Sesungguhnya penduduk-penduduk kota Al Hijr telah mendustakan rasul-rasul.” (QS: Al Hijr [15]: 80).

Penduduk kota Al-Hijr ini ialah kaum Tsamud. Al-Hijr tempat yang terletak di Wadi Qura antara Madinah dan Suriaah. Yang dimaksud Rasul-rasul di sini ialah shaleh. Mestinya di sini disebut rasul, tetapi disebut Rasul-rasul (Jama’) karena mendustakan seorang Rasul sama dengan mendustakan semua rasul-rasul.

كَأَن لَّمْ يَغْنَوْاْ فِيهَا أَلاَ إِنَّ ثَمُودَ كَفرُواْ رَبَّهُمْ أَلاَ بُعْداً لِّثَمُودَ

“Seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu. Ingatlah, Sesungguhnya kaum Tsamud mengingkari Tuhan mereka. Ingatlah, kebinasaanlah bagi kaum Tsamud.” (QS: Hud [11] : 68).

Demikian cepatnya mereka dihancurkan oleh guntur itu, sehingga mereka hancur lebur oleh guntur itu, tanpa bekas, seakan-akan mereka tidak pernah ada.

كَذَّبَتْ قَبْلَهُمْ قَوْمُ نُوحٍ وَأَصْحَابُ الرَّسِّ وَثَمُودُ

“Sebelum mereka telah mendustakan (pula) kaum Nuh dan penduduk Rass dan Tsamud.”(QS: Qaf [50]: 12).*/bersambung

Penulis adalah kolumnis hidayatullah.com, tinggal di Kudus, Jawa Tengah

Rep: Administrator
Editor: Cholis Akbar

Empat Indikator Ketakwaan

oleh: Shalih Hasyim

Di antara sifat-sifat orang yang bertaqwa yang disebutkan Allah Subhanahu Wata’ala terdapat dalam Al Quran Surat Adz-Dzariyat (51) : 15-19.

إنَ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ. ءَاخِذِينَ مَآءَاتَاهُمْ رَبُّهُمْ إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذلِكَ مُحْسِنِينَ. كَانُوا قَلِيلاً مِّنَ الَليْلِ مَايَهْجَعُونَ. وَبِاْلأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ. وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقُّ لِّلسَّآئِلِ وَالْمَحْرُومِ

“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa berada di dalam taman-taman (surga) dan di mata air-mata air. Sambil mengambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Rabb mereka. Sungguh, sebelum itu, mereka ketika di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik. Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah Subhanahu Wata’ala) Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang menjaga dirinya dari meminta-minta.”

Merujuk kalam Ilahi di atas dapat kita ambil pelajaran tentang kecerdasan majemuk yang melekat pada diri orang yang bertaqwa, yaitu : Kecerdasan Sosial, Kecerdasan Ruhaniah, Kecerdasan Emosional dan Kecerdasan Finansial.

Pertama: Kecerdasan Sosial

Ditandai dengan selalu berbuat baik kepada orang lain karena ia yakin kebaikan itu kembali kepada dirinya sendiri, tanpa salah alamat.

إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذلِكَ مُحْسِنِينَ.

“Sungguh, sebelum itu, mereka ketika di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik.”


Kebaikan seseorang tidak semata-mata diukur dari hablun minallah, rajinnya ibadah ritual, tetapi harus diimbangi dengan hablun minannas. Shalat dimulai dengan takbir, dan diakhiri dengan salam mengajarkan kepada kita untuk menjaga keseimbangan dan kesinambungan hubungan vertikal dan horizontal. Manusia yang terbaik adalah yang paling banyak memberikan manfaat kepada orang lain (al Hadits). Manusia yang paling baik adalah manusia yang bergaul (lebur) dengan manusia lain dan sabar atas gangguan mereka (al Hadits). Orang yang baik adalah yang sholih ritual dan sholih sosial. Sholihun linafsihi wa sholihun lighoirih (sholih untuk dirinya dan sholih untuk orang lain).

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan berbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.” (QS. Al Hajj (22) : 77)

Spirit untuk berbuat baik tidak akan pernah padam, hingga ajal menjemput. Karena ia yakin pasti mendapat balasan yang lebih baik dari Allah Subhanahu Wata’ala. Dan balasan itu akan dia panen baik secara kredit ataupun kontan. Secara langsung maupun tidak langsung. Di dunia ini dan di akhirat kelak.

Ada dua kunci untuk sukses bergaul (bermuamalah) – interaksi yang mengandung hitung-hitungan materi – dan bermu’asyarah – interaksi yang menonjolkan ruhani - dengan orang lain. Pertama, Salamatush Shadr (dada selamat/steril dari penyakit serakah, sombong dan dengki). Kedua, Al-Itsar (mengutamakan/mendahulukan orang lain dalam urusan dunia). Dua rumus itulah yang dapat menyederhanakan perbedaan dan menonjolkan umat Islam pertama di Madinah. Antara kaum Muhajirin (penduduk Makah yang hijrah) dan Anshar (penduduk Madinah yang mukim, siap menolong saudaranya yang berhijrah).

Kedua: Kecerdasan Ruhaniah

Ia giat dan mudawamah (terus-menerus) dan istiqomah (konsisten) melaksanakanqiyamullail atau shalat malam.

انُوا قَلِيلاً مِّنَ الَّيْلِ مَايَهْجَعُونَ

“Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam.”

Artinya, orang yang bertaqwa adalah orang yang rajin shalat malam atau shalat tahajjud(melepaskan selimut) untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wata’ala . Itulah sebabnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam menginformasikan kepada shahabatnya bahwa bangun malam adalah prilaku dan kebiasaan rutin (kultur) orang-orang shalih dahulu, sebagai taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah Subhanahu Wata’ala, membentengi diri dari perbuatan dosa, menghapuskan kesalahan dan dapat menghilangkan penyakit dalam tubuh.

Dengan shalat lail kita bermuhasabah dan menyadari bahwa betapa banyak persoalan kehidupan ini yang tidak dapat dipecahkan hanya dengan menonjolkan ikhtiar lahiriyah dan kecerdasan intelektual. Kita menyadari keterbatasan kapasitas diri kita. Dan kita merendah di hadapan Allah Subhanahu Wata’ala yang Maha Kuat dan Maha Perkasa. Dan Maha Memiliki segala yang diperlukan hamba-Nya.

Subhanallah (Maha Suci Allah), bukankah kita seringkali tidak berhasil mengendalikan panca indra kita dari perbuatan maksiat. Kita lemah menjaga mulut, pikiran, hati, pendengaran, untuk selalu terkontrol. Al Hamdulillah (Segala puji hanya milik Allah).

Alangkah banyak karunia yang diberikan oleh Allah Subhanahu Wata’ala baik nikmat lahir ataupun nikmat batin. Allahu Akbar (Allah Maha Besar). Betapa kecil ilmu, harta, kekuasaan, dan pengaruh kita. Seringkali apa yang kita miliki tadi tidak berdaya menyelamatkan kita dari mara bahaya. Laa haula wa laa quwwata illa billah (tidak ada daya dan kekuatan kecuali Allah). Betapa tidak berdayanya diri kita. Menahan ngantuk saja tidak mampu. Mencukur rambut saja tidak dapat mandiri. Laa Ilaaha Illallah (Tidak ada yang patut disembah dan diibadahi kecuali Allah). Dengan memperbanyak kalimat tasbih, hamdalah, takbir, dan tahlil, mudah-mudahan keimanan menghunjam di dalam hati kita. Dengan media shalat malam mendidik seluruh anggota tubuh kita untuk tunduk kepada Allah Subhanahu Wata’ala secara serentak.

Ketiga: Kecerdasan Emosional

Ia selalu muhasabah dengan memohon ampun (beristighfar) kepada Allah Subhanahu Wata’ala di waktu sahur (di penghujung malam). Orang yang cerdas adalah orang yang selalu intropeksi diri dan beramal untuk kehidupan sesudah mati. Dengan banyak muhasabah, hisab di akhirat lebih ringan. Karena ia selalu minta ditutupi, dihapus kelemahannya oleh Allah Subhanahu Wata’ala .

Semakin banyak mengucapkan kalimat istighfar sepatutnya makin banyak kelemahannya yang dihapus. Sehingga yang menonjol adalah kebaikannya (sisi positif).

وَبِاْلأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

Mereka beristighfar di waktu sahur. Waktu sahur ini memiliki keutamaan dan kemuliaan karena ia termasuk sepertiga malam terakhir.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam pernah bersabda :

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ رواه البخاري( كتاب التوحيد/6940) ومسلم ( صلاة المسافرين/1262)

“Allah Subhanahu Wata’ala setiap malam turun ke langit dunia ketika sepertiga malam yang terakhir masih tersisa. Kemudian Dia berfirman, “Siapa yang berdoa kepada-Ku akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku akan Aku beri. Dan siapa yang memohon ampun kepada-Ku akan Aku ampuni.”

Orang yang memiliki kecerdasan emosional hatinya mudah empati melihat penderitaan orang lain, dan mudah menerima kebenaran orang lain. Maka ia berjiwa besar. Berjiwa permadani. Dapat menampung semua karakter manusia. Dan jauh dari sikap kerdil. Berbagai penelitian mutakhir menunjukkan bahwa kecerdasan emosional penentu keberhasil hidup seseorang.

Keempat: Kecerdasan Finansial

Ia senang berbagi dan memberi orang-orang yang membutuhkannya.
وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِّلسَّآئِلِ وَالْمَحْرُومِ

“Dan dalam hartanya ada hak bagi peminta-minta, dan orang miskin yang menahan diri dari meminta”.

Maksudnya, ia gemar bersedekah dan memberikan sebagian rizki yang diberikan Allah Subhanahu Wata’ala kepadanya untuk orang lain yang membutuhkan. Ia yakin dengan memberi sesungguhnya akan mendapatkan/memperoleh. Allah Subhanahu Wata’ala akan menggantinya dan melipatgandakannya. Orang inilah yang bermental kaya. Sebaliknya, orang yang simpanannya banyak, tetapi merasa kurang terus, sehingga ia dihinggapi penyakit thoma’ (rakus), sesungguhnya ia bermental miskin. Semakin menumpuk kekayaan yang dimilikinya bagaikan minum air laut, semakin diminum semakin haus.

Orang bertakwa tidak terjangkiti penyakit materialis. Yaitu, ketika memberi selalu mempertimbangkan untung/rugi. Ada maksud tersembunyi dibalik pemberiannya itu. Ia khawatir jika ia memberi, jatuh miskin. Takut hartanya berkurang. Ia tidak percaya bahwa Allah Subhanahu Wata’ala yang melapangkan dan menyempitkan rezeki seseorang.

Demikian diantara sifat orang bertaqwa yang dijanjikan Allah Subhanahu Wata’ala sebagai balasan sesuai dengan apa yang telah dikerjakan selama mereka hidup di dunia. Kenikmatan yang tidak terlihat oleh mata, tidak pernah terdengar oleh telinga dan tidak pernah terlintas oleh manusia.

Semoga kita dan keluarga kita dimudahkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala untuk mengikuti jejak Ahlul Jannah, penghuni surga. Amin ya Rabbal ‘Alamin.*

Penyebab Akhir Kehidupan yang Menyedihkan

Oleh: Sholih Hasyim

DALAM kitab Ensiklopedia Kiamat(aslinya: al-Yaum al-Akhir:al-Qiyamah ash-Shughra wa ‘Alamat al-Qiyamah al-Kubra), Dr Umar Sulaiman al-Asyqar menulis pasal khusus berjudul “Hal-hal Yang Menyebabkan Su’ul Khatimah (akhir kehidupan yang buruk)”.

Ia menyebutkan ada empat perkara yang dapat menyebabkan seseorang mengakhiri hidupnya dalam keadaan buruk sehingga menghantarkannya ke Neraka di kehidupan abadi negeri akhirat kelak.

Namun sebelum kita uraikan keempat hal tersebut alangkah baiknya kita perhatikan hadits di bawah ini yang memuat salah satu rukun iman yang fundamental, yaitu iman akan taqdir Allah, baik itu taqdir yang terasa menyenangkan maupun yang terasa pahit.

ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ
بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ فَوَالَّذِي لَا إِلَهَ غَيْرُهُ
إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ
وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا
وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا
إِلَّا ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا

Dari Abu Abdirrohman, Abdulloh bin Mas’ud rodhiyallohu’anhu, dia berkata: ”Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam telah bersabda kepada kami dan beliau adalah orang yang selalu benar dan dibenarkan:“…Kemudian diutuslah seorang malaikat kepadanya, lalu malaikat itu meniupkan ruh kepadanya dan ia diperintahkan menulis empat kalimat: Menulis rizkinya, ajalnya, amalnya, dan nasib celakanya atau keberuntungannya. Maka demi Alloh yang tiada tuhan selain-Nya, sesungguhnya ada diantara kamu yang melakukan amalan penduduk surga dan amalan itu mendekatkannya ke surga sehingga jarak antara dia dan surga kurang satu hasta, namun karena taqdir yang telah ditetapkan atas dirinya, lalu dia melakukan amalan penduduk neraka sehingga dia masuk ke dalamnya. Dan sesungguhnya ada seseorang diantara kamu yang melakukan amalan penduduk neraka dan amal itu mendekatkannya ke neraka sehingga jarak antara dia dan neraka hanya kurang satu hasta, namun karena taqdir yang telah ditetapka atas dirinya, lalu dia melakukan amalan penduduk surga sehingga dia masuk ke dalamnya.” (HR. Muslim).

Seorang yang beriman kepada taqdir yang ditetapkan oleh Allah pastilah sangat khawatir bilamana dirinya termasuk ke dalam golongan yang disabdakan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam di atas yaitu “… Sesungguhnya ada di antara kamu yang melakukan amalan penduduk surga dan amalan itu mendekatkannya ke surga sehingga jarak antara dia dan surga kurang satu hasta, namun karena taqdir yang telah ditetapkan atas dirinya, lalu dia melakukan amalan penduduk neraka sehingga dia masuk ke dalamnya.”

Sungguh merugilah orang yang ditaqdirkan Allah seperti itu. Namun tentunya melalui pelajaran ini beliau bermaksud untuk menjelaskan adanya orang yang amalan baiknya selama ini sekedar yang tampak pada manusia. Sedangkan bisa jadi pada hakikatnya tersimpan dalam hatinya kejahatan yang kemudian menampakkan wujudnya secara kongkrit pada akhir hayatnya.
Sebaliknya golongan orang yang digambarkan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam sebagai ”dan sesungguhnya ada seseorang di antara kamu yang melakukan amalan penduduk neraka dan amal itu mendekatkannya ke neraka sehingga jarak antara dia dan neraka hanya kurang satu hasta, namun karena taqdir yang telah ditetapkan atas dirinya, lalu dia melakukan amalan penduduk surga sehingga dia masuk ke dalamnya.”

Tentunya ini adalah orang yang sangat beruntung dan disayang Allah ta’aala. Boleh jadi manusia memberi penilaian buruk karena perilakunya selama ini, namun sesungguhnya ia memiliki suatu kebaikan tertentu yang disembunyikan dari penglihatan orang lain sedangkan Allah memandang kebaikannya itu layak menjauhkan dirinya dari neraka dan menghantarkannya ke surga. Wallahu a’lam.

Yang pasti, beriman kepada taqdir akan menghasilkan rasa takut yang mendalam akan nasib akhir hidup dan menumbuhkan semangat yang tinggi untuk beramal dan istiqomah dalam ketaatan demi mengharap husnul khatimah. Beriman kepada taqdir bukanlah alasan untuk bermaksiat dan bermalas-malasan. Beriman kepada taqdir justru semakin membuat seseorang berusaha keras berbuat sebanyak mungkin ’amal sholeh dan ’amal ibadah sekaligus menjauhi segala bentuk kemungkaran dan kemaksiatan yang berpotensi menyebabkan terjadinya su’ul khatimah.

Sebab-sebab

Shiddiq Hasan Khan mengatakan bahwa su’ul khatimah (penutup kehidupan dunia yang buruk) memiliki sebab-sebab yang harus diwaspadai oleh seorang mukmin.

Pertama, kerusakan dalam aqidah, walau disertai zuhud dan kesholehan. Jika ia memiliki kerusakan dalam aqidah dan ia meyakininya sambil tidak menganggap itu salah, terkadang kekeliruan aqidahnya itu tersingkap pada saat sakratul maut. Bila ia wafat dalam keadaan ini sebelum ia menyadari dan kembali ke iman yang benar, maka ia mendapatkan su’ul khatimah dan wafat dalam keadaan tidak beriman. Setiap orang yang beraqidah secara keliru berada dalam bahaya besar dan zuhud serta kesholehannya akan sia-sia. Yang berguna adalah aqidah yang benar yang bersumber dari Kitabullah dan Sunnah Rasul. Mereka terancam oleh ayat Allah berikut:

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالاً
الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعاً

”Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS: Al-Kahfi [18]: 103-104)

Kedua, banyak melakukan maksiat. Orang yang sering bermaksiat akan didominasi oleh memori tersebut saat kematian menjelang.

Sebaliknya bila seseorang seumur hidupnya banyak melakukan ketaatan, maka memori tersebutlah yang menemaninya saat sakaratul maut. Orang yang banyak dosanya sehingga melebihi ketatannya maka ini sangat berbahaya baginya. Dominasi maksiat akan terpateri di dalam hatinya dan membuatnya cenderung dan terikat pada maksiat, dan pada gilirannya menyebabkan su’ul khatimah.

Adz-Dzahabi dalam kitabnya al-Kaba’ir mengutip Mujahid: Tidaklah seseorang mati kecuali ditampilkan kepadanya orang-orang yang biasa ia gauli. Seorang lelaki yang suka main catur sekarat, lalu dikatakan kepadanya: ”Ucapkanlah La ilaha illa Allah.” Ia menjawab: ”Skak!” kemudian ia mati. Jadi, yang mendominasi lidahnya adalah kebiasaan permainan dalam hidupnya. Sebagai ganti kalimat Tauhid, ia mengatakan skak.

Ada sebuah ungkapan ahli hikmah : Seseorang akan mengalami sakaratul maut (mabuk kematian) berbanding lurus dengan hobinya di dunia. Jika hobinya menyabut nama Allah SWT maka akan mudah berzikir. Sedangkan jika ia hobi ghibah, maka ia akan melakukan serupa dengan hobinya itu.

Ketiga, tidak istiqomah. Sungguh, seorang yang istiqomah pada awalnya, lalu berubah dan menyimpang dari awalnya bisa menjadi penyebab ia mendapat su’ul khatimah, seperti iblis yang pada mulanya merupakan pemimpin dan guru malaikat serta malaikat yang paling gigih beribadah, tapi kemudian tatakala ia diperintah untuk sujud kepada Adam, ia membangkang dan menyombongkan diri, sehingga ia masuk golongan kafir. Demikian pula dengan ulama Bani Israil Bal’am yang digambarkan dalam ayat berikut:

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِيَ آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ
وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَـكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِن تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَث ذَّلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُواْ بِآيَاتِنَا فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
سَاء مَثَلاً الْقَوْمُ الَّذِينَ كَذَّبُواْ بِآيَاتِنَا وَأَنفُسَهُمْ كَانُواْ يَظْلِمُونَ

”Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian dia melepaskan diri daripada ayat-ayat itu lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat) nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir. Amat buruklah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat zalim.”(QS Al-A’raaf ayat 175-177)

Keempat, iman yang lemah. Hal ini dapat melemahkan cinta kepada Allah dan menguatkan cinta dunia dalam hatinya. Bahkan lemahnya iman dapat mendominasi dirinya sehingga tidak tersisa dalam hatinya tempat untuk cinta kepada Allah kecuali sedikit bisikan jiwa, sehingga pengaruhnya tidak tampak dalam melawan jiwa dan menahan maksiat serta menganjurkan berbuat baik. Akibatnya ia terperosok ke dalam lembah nafsu syahwat dan perbuatan maksiat, sehingga noda hitam dosa menumpukdi dalam hati dan akhirnya memadamkan cahaya iman yang lemah dalam hati. Dan ketika sakratul maut tiba, cinta Allah semakin melemah manakala ia melihat ia akan berpisah dengan dunia yang dicintainya. Kecintaannya pada dunia sangat kuat, sehingga ia tidak rela meninggalkannya dan tak kuasa berpisah dengannya. Pada saat yang sama timbul rasa khawatir dalam dirinya bahwa Allah murka dan tidak mencintainya. Cinta Allah yang sudah lemah itu berbalik menjadi benci. Akhirnya bila ia mati dalam kondisi iman seperti ini, maka ia mendapat su’ul khatimah dan sengsara selamanya.

Ia baru menyadari bahwa yang selama ini ia bela mati-matian (all out), anak dan istri serta dunia lainnya, mengkhianatinya. Terbukti, ketika ia masuk di liang lahat, tidak mengikutinya. Bahkan, melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan. Sebalinya, yang setia menemaninya hingga wafat adalah iman dan amal shalih yang ia lakukan di dunia.*

Penulis adalah kolumnis hidayatullah.com, tinggal di Kudus, Jawa Tengah

Hujan menjadi Musibah karena Kejahilan Manusia

"Kami turunkan dari langit air yang penuh keberkahan lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam.” (QS: Qaaf (50) : 9)"

Jika hujan akhir-akhir ini selalu melahirkan musibah dan bencana, itu bukan salah Allah, tetapi al-Quran banyak menyitir datangnya musibah lebih banyak karena kesalahan manusia itu sendiri.

Hadirnya musibah dan banjir, seharusnya membuat kita berintropeksi diri karena banyaknya tangan-tangan jahil manusialah telah memporakporandakan alam dan ekosistem menjadi tidak serasi.

Hutan-hutan yang seharusnya menjadi penahan air, tiba-tiba sudah ditumbuhi beton-beton. Gunung, bukit sudah berubah menjadi perumahan mewah, villa (yang sesungguhnya juga jarang dihuni), karena pemiliknya hanya menempati setahun sekali untuk bersenang-senang.

Perliaku buruk manusia dalam pembangunan yang lebih mementingkan dirinya sendiri tidak melihat dampak-dampak lain menyebakan datangnya hujan seharusnya jadi berkah justru menjadi musibah.

Datangnya hujan ibarat datangnya harta pada kita. Bila sebelumnya kita tak memiliki uang tiba-tiba dalam sekejab diberi kekayaan berlimpah-ruah, maka harta yang kita miliki bisa jadi musibah jika tidak kita control dan kita kelola dengan baik. Memiliki harta dan kekayaan belum tentu berkah, bahkan bisa jadi musibah bagi anak, istri atau kita sendiri. Sama seperti hujan yang tidak kita kelola.

Larangan mencela Hujan

Sebahagian orang sering keluar dari mulutnya celaan, “Aduh! Hujan lagi, hujan lagi.”

Ketahuilah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menasihatkan kita agar jangan selalu menjadikan makhluk yang tidak dapat berbuat apa-apa sebagai kambing hitam jika kita mendapatkan sesuatu yang tidak kita sukai. Seperti beliau melarang kita mencela waktu dan angin karena kedua makhluk tersebut tidak dapat berbuat apa-apa.

Dalam sebuah hadits qudsi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman (yang artinya); “Manusia menyakiti Aku; dia mencaci maki masa (waktu), padahal Aku adalah pemilik dan pengatur masa, Aku-lah yang mengatur malam dan siang menjadi silih berganti.” [HR Muslim].

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, ”Janganlah kamu mencaci maki angin.” [HR. Tirmidzi no. 2252]

Dari dalil di atas terlihat bahwa mencaci maki masa (waktu) dan angin adalah sesuatu yang terlarang dalam Islam. Begitu pula halnya dengan mencaci maki makhluk yang tidak dapat berbuat apa-apa, seperti mencaci maki angin dan hujan adalah terlarang.
Islam memberi panduan kita hujan turun.

Pertama, do’a kesyukuran pada Allah

’Aisyah radhiyallahu ’anha berkata,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إذَا رَأَى الْمَطَرَ قَالَ : اللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعًا


”Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ketika melihat turunnya hujan, beliau mengucapkan; ”Allahumma shoyyiban nafi’an” [Ya Allah turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat]”.[HR Bukhori]

Kedua, turunnya hujan, justru kesempatan terbaik untuk memanjatkan do’a dan di mana doa mudah dikabulkan
Ibnu Qudamah dalam Al Mughni mengatakan, ”Dianjurkan untuk berdo’a ketika turunnya hujan, sebagaimana diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, “Carilah do’a yang mustajab pada tiga keadaan : (1) Bertemunya dua pasukan, (2) Menjelang shalat dilaksanakan, dan (3) Saat hujan turun.” [HR Bukhari]

Ketiga: do’a ketika terjadi hujan lebat.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam suatu saat pernah meminta diturunkan hujan. Kemudian ketika hujan turun begitu lebatnya, beliau memohon pada Allah agar cuaca kembali menjadi cerah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a, “Allahumma haawalaina wa laa ’alaina. Allahumma ’alal aakami wal jibaali, wazh zhiroobi, wa buthunil awdiyati, wa manaabitisy syajari [Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami. Ya Allah, turunkanlah hujan ke dataran tinggi, gunung-gunung, bukit-bukit, perut lembah dan tempat tumbuhnya pepohonan].”

Keempat, mengambil berkah dari air hujan

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, ”Kami pernah kehujanan bersama Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyingkap bajunya hingga tersiram hujan. Kemudian kami mengatakan, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau melakukan demikian?” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Karena hujan ini baru saja Allah ciptakan.” [HR Muslim]

An-Nawawi menjelaskan, “Makna hadits ini adalah hujan itu rahmat yaitu rahmat yang baru saja diciptakan oleh Allah Ta’ala. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertabaruk (mengambil berkah) dari hujan tersebut.”[ Syarh Muslim, Yahya bin Syarf An Nawawi,]

Demikianlah akidah seorang Muslim dalam melihat persoalan hujan. Semoga berkah yang dating pada kita menyebabkan iman kita bertambah bukan sebaliknya menjadi berkurang dan mengakibatkan kita inkar pada Allah Subhanahu Wata’ala, layaknya orang-orang yang tidak memiliki keimanan.*
 
oleh: Sholih Hasyim 
 
KEMBALI KEATAS | Home | Redaksi | Pasang Iklan | Kirim Artikel | Daftar ISI
Copyright © 2014 HadistWEB - All Rights Reserved